Sabtu, 28 November 2015

Buku Samarinda Bahari, Sejarah 7 Zaman Daerah Samarinda

Saat kata “bahari” dikaitkan dengan kota yang bernama Samarinda, maka sebagian orang berpikir, Samarinda Bahari itu adalah kondisi ibukota Kalimantan Timur tempo dulu dengan peristiwa, peralatan, kendaraan, permainan, gedung, sarana hiburan, atau hal-hal unik khas era tertentu semisal dekade 1990-an, 1980-an, atau 1970-an. Mereka  menganggap zaman bahari itu ketika diri mereka masih kanak-kanak atau orang tuanya masih bujang, atau ketika kakek, nenek, buyutnya hidup pada masa penjajahan Jepang dan Belanda.

Sebagian lagi lebih meluas dalam memaknai “Samarinda Bahari,” dengan mencakup sejarah berdirinya kota Samarinda. Berbekal mesin pencarian seperti Google, dengan mudah orang menemukan artikel dan tulisan tentang sejarah Samarinda, yang mayoritas bermuara pada peristiwa kedatangan rombongan Bugis Wajo pada tanggal 21 Januari 1668 di muara Karang Mumus, lalu bermukim di Samarinda Seberang.

Benarkah kedatangan La Mohang Daeng Mangkona adalah awal berdirinya Samarinda? Apakah saat itu Samarinda adalah kawasan kosong tak berpenghuni? Ternyata
sudah ada enam kampung yang eksis pada abad ke-13 Masehi, yang dikorelasikan dengan awal berdirinya Kerajaan Kutai Kartanegara. Dari mana mengetahuinya?  Tentu ada literaturnya.

Siapakah mereka yang menghuni enam kampung itu: Pulau Atas, Sambutan, Karang Mumus, Karang Asam, Loa Bakung, dan Mangkupalas? Apakah riwayat Samarinda terbatas pada 700 tahun silam? Ataukah sudah ada 22 abad yang lalu?

Bagaimana dengan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 1988 yang menetapkan hari jadi Samarinda? Bukankah itu berarti sejarah sudah dilegitimasi secara politis? Bukankah ada makam, rumah, dan masjid tua di Samarinda Seberang? Bukankah, bukankah, bukankah…? Bagaimana dengan teori Banjar/Kutai sebagai pendiri Samarinda?

Buku ini, “Samarinda Bahari, Sejarah 7 Zaman Daerah Samarinda” menguraikan detail sejarah peradaban Samarinda, dengan analisis dan interpretasi rasional berdasarkan metodologi penulisan sejarah (historiografi). Beragam riwayat dan kontroversi diulas satu per satu sehingga dengan sendirinya pembaca bisa memahami hakikat tafsir masa lampau yang sesungguhnya.

Samarinda memang tidak mempunyai tokoh yang digelari pahlawan nasional. Buku-buku pelajaran sejarah di sekolah sejak SD hingga SMA juga tidak ada yang menceritakan sejarah perlawanan rakyat Samarinda melawan penjajah. Maka, di buku inilah warga Kota Tepian akan menemukan rangkuman peristiwa pergerakan organisasi kebangsaan, perjuangan diplomasi, sabotase, dan pertemuran heroik melawan kolonial di Samarinda.

Periodisasi tujuh zaman yang terjadi di Samarinda adalah realita sehingga bisa disusun secara kronologis. Dengan memiliki buku ini, maka warga Samarinda yang peduli sejarah dimudahkan tanpa harus bersusah payah mencari referensi atau memverifikasi informasi yang berbeda-beda antarbuku.

Harga Rp 80.000,- untuk buku berukuran 17 x 24 cm setebal 218 + 14 halaman ini tergolong wajar karena isinya sangat padat, dengan huruf Arial ukuran 10 dan spasi 1,25. Jika dibandingkan dengan buku “War of Balikpapan” cetakan 2011 yang ukurannya lebih kecil seharga Rp 100.000, tentu buku ini jauh lebih murah. Apalagi, buku ini ditulis secara independen, bukan buku kampanye, bukan sekadar salinan (copy paste) dari buku-buku lain, melainkan hasil riset pustaka dan verifikasi lapangan yang komprehensif.


Buku ini bisa dibeli dengan mentransfer ke rekening BNI 0076511031, atau BRI 4884-01-000093-50-6, atau Muamalat 6080001138 senilai jumlah buku yang diinginkan, berikan tiga angka unik di jumlah transfer sesuai tiga angka terakhir nomor handphonepengirim. Contoh: Rp 80.234 sesuai nomor handphone 081347999234. Setelah mentransfer, segera konfirmasi via SMS/Whats Ap ke 085347456753. Buku akan dikirimkan ke alamat pembeli melalui paket TIKI, bebas biaya kirim khusus untuk alamat di wilayah Kota Samarinda.

Presenter Talk Show "Obrolan Kita" di stasiun televisi lokal STV mempromosikan buku "Samarinda Bahari, Sejarah 7 Zaman Daerah Samarinda" pada 9 November 2015. Duduk di tengah adalah Ririet Suryandari (Kabag TU Badan Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan). Paling kanan: Fajar Alam (ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia/IAGI Kaltim dan admin Samarinda Bahari).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar