Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Mei 2026

Kuliah Umum Agama & Budaya: Islam dalam Kebudayaan Kutai


Kuliah Umum bertema “Agama & Budaya: Islam dalam Kebudayaan Kutai” akan digelar pada Senin, 25 Mei 2026 mulai pukul 08:30 Wita di Studio Mini Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Timur, Jalan H.A.M. Rifaddin 69 Samarinda.

Sabtu, 21 Oktober 2023

Nondoi, Ritual "Bersih Kampung" ala Suku Paser

Upacara adat Nondoi suku Paser
di Penajam Paser Utara (18/10/2023)
Fotografer: Arief Rahman
Penajam, SejarahKaltim.com
Berjarak 60 kilometer dari Titik Nol Nusantara, suku Paser menggelar upacara adat Nondoi di Penajam Paser Utara pada 18 hingga 21 Oktober 2023. Redaksi SejarahKaltim.com berkesempatan menyaksikan langsung tradisi Nondoi yang merupakan salah satu ritual tua tahunan di Kabupaten PPU, Kalimantan Timur.

Kamis, 12 Oktober 2023

Lokakarya Unmul Susun Buku Ajar ISBD untuk Semua Fakultas

Samarinda, SejarahKaltim.com

Universitas Mulawarman melaksanakan Lokakarya Penyusunan Buku Ajar Ilmu Sosial Budaya Dasar (ISBD) di Selyca Hotel Samarinda, Kamis, 12 Oktober 2023. Kegiatan yang beranggotakan 40 dosen Unmul lintas fakultas ini menghadirkan narasumber sejarawan publik sekaligus praktisi perbukuan, Muhammad Sarip.

Jumat, 14 April 2023

Otorita IKN Bahas Kearifan Lokal Kaltim di Jakarta

Arahan oleh Deputi LHSDA Otorita IKN
Dr. Myrna A. Safitri,14 April 2023 (foto staf OIKN)
Jakarta, SejarahKaltim.com
Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) berencana menerbitkan Peraturan Kepala OIKN tentang Pengakuan Kearifan Lokal dalam Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Untuk itu, Kedeputian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (LHSDA) menyelenggarakan konsinyering bersama para pakar di Hotel Le Meridien, Jakarta (14/4/2023).
 
Menurut Deputi LHSDA Dr. Myrna A Safitri, dasar pemikiran konsinyering adalah pembangunan IKN dilaksanakan berdasarkan asas keselarasan dengan alam dan kebhinekatunggalikaan. Kearifan lokal merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dilepaskan dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di wilayah IKN.

Senin, 23 Mei 2022

Talkshow Mengenal Sejarah dan Budaya Samarinda

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda mengadakan talkshow bertema "Mengenal Sejarah dan Budaya Samarinda" pada Senin, 23 Mei 2022.

Gelar wicara di Museum Samarinda ini menghadirkan tiga narasumber. Pembicara pertama adalah Kepala Disdikbud Samarinda, Dr. H. Asli Nuryadin. Pembicara kedua adalah Syafruddin Pernyata, seorang sastrawan dan budayawan. Pembicara berikutnya adalah sejarawan Muhammad Sarip.

Talkshow yang dihadiri para guru IPS SMP ini dipandu oleh Achmad Mushlih Navis dari Rumah Seniman Samarinda.

 

Sabtu, 26 Februari 2022

Suku Asli di Kaltim Bakal Seperti Betawi di Jakarta?

© Muhammad Sarip

Etnik dan kultur Betawi di DKI Jakarta disinyalir hampir tinggal nama belaka. Bagaimana dengan suku asli di Kalimantan Timur kelak di Ibu Kota Nusantara?

Selasa, 19 Februari 2019

Ketika Jukung Banjar Masuk Mahakam 5 Abad Silam



Lima abad yang lalu, jukung memasuki Sungai Mahakam. Perahu khas Kalimantan itu mengangkut para utusan Pangeran Samudra. Mereka datang dari Banjarmasin yang kala itu menjadi pangkalan militer kubu Pangeran Samudra alias Pangeran Suriansyah.  

Sabtu, 21 April 2018

Emansipasi Perempuan Kutai Zaman Dulu

Ratusan tahun sebelum kelahiran Raden Ajeng Kartini 21 April 1879, masyarakat Kutai di daratan timur Pulau Kalimantan sudah mempraktikkan kesetaraan gender secara riil. Persamaan derajat laki-laki dan perempuan itu pun dalam bidang yang strategis, yakni politik pemerintahan.

Senin, 28 Agustus 2017

Wanita Penghibur di Pusat Kota Samarinda Zaman Dulu

Iklan lawas yang ditampilkan dalam artikel ini diterbitkan dalam sebuah buku resmi oleh Badan Pelaksana Taman Pusat Kebudayaan dan Olah Raga Tenggarong. Pemuatan iklan tentu saja sebagai konsekuensi atas sponsor pencetakan buku tahun 1973 tersebut.
Di antara konten yang spesial dari iklan ini adalah promosi pramuria-pramuria jelita dan sopan yang cukup representatif yang akan membersamai para pengunjung bar, restoran, dan kelab malam di pusat Kota Samarinda itu. Istilah pramuria menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah karyawati kelab malam yang bertugas melayani dan menemani tamu.

Selasa, 20 Juni 2017

Tradisi Bagarakan Sahur di Samarinda (Asal Usul, Sejarah, dan Penyelewengannya)

Hari sudah lewat tengah malam, bahkan masuk dini hari. Ini waktu yang paling nyaman untuk tidur nyenyak. Tetapi, bunyi tetabuhan yang gemuruh dan genderang itu nyaring bertalu-talu. Suaranya terdengar beranjak pelan mengelilingi permukiman warga. 

Pelakunya adalah rombongan anak-anak dan remaja. Warga pun terbangun dari tidur pulasnya. Aksi mereka memang membuat suasana berisik dan 'mengganggu' tidur lelap warga. Namun, warga tidak marah. Dalam tempo tertentu, ada pekikan "Sahur, sahur, sahur!" yang dilontarkan rombongan itu.  Demikianlah tradisi tempo dulu yang berlangsung pada bulan Ramadan di Samarinda dan pelbagai daerah lainnya.

Kamis, 21 Januari 2016

Kontroversi 21 Januari 1668 dan Kultur Banjar di Samarinda

Hari ini, 21 Januari 2016, Pemerintah Kota Samarinda, instansi dan lembaga lokal, serta sekolah-sekolah memperingati hari jadi dalam seremonial upacara. Hari jadi yang dirayakan ada dua jenis: hari jadi Pemkot Samarinda ke-56 dan hari jadi Kota Samarinda ke-348.
Penetapan hari jadi Pemerintah Daerah tanggal 21 Januari 1960 mempunyai landasan historis dan autentik, karena pada tanggal tersebut terjadi upacara serah-terima wilayah oleh Kepala Daerah Istimewa (DI) Kutai kepada Walikota Samarinda, Kapten Soedjono. Sebelumnya, terjadi pemecahan wilayah DI Kutai menjadi 3 daerah tingkat (Dati) II, yaitu Dati II Kutai, Kotapraja Samarinda, dan Kotapraja Balikpapan.

Minggu, 27 Desember 2015

Jejak Kolonial Belanda di Makam Tua Jalan Arjuna Samarinda

Prolog
Samarinda telah menarik perhatian bangsa Eropa, utamanya Belanda, sekurangnya sejak abad ke-19, ketika sumber daya alam hasil hutan seperti rotan, dammar dan lainnya banyak diperdagangkan. Di penghujung abad ke-19, ketertarikan Belanda terhadap sumber daya alam bergeser dari sumber daya alam hayati dari kehutanan dan perkebunan ke sumber daya alam nonhayati berupa hasil tambang seiring era industri di Eropa yang sedang berkembang. Kalimantan bagian timur merupakan satu di antara kawasan yang dianggap memiliki nilai ekonomi strategis bidang pertambangan saat itu, dengan mulainya Belanda mengembangkan industri pertambangan.