Minggu, 05 Juli 2020

Mengadili Ulang Sultan Hamid II: Antara Pahlawan dan Pengkhianat

Oleh Muhammad Sarip

Ada yang berbeda dari webinar Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) yang saya ikuti hari Minggu alias Ahad ini (5 Juli 2020). Selesai Zoom Meeting, peserta tidak otomatis akan mendapatkan e-sertifikat.

Rupanya panitia jeli melihat situasi. AGSI yang sudah lebih dari 30 kali mengadakan webinar selama pandemi Covid-19 tentu tidak ingin menjadi pabrik e-sertifikat. AGSI berusaha mencegah timbulnya para kolektor dan pemburu e-sertifikat yang tidak berfaedah bagi literasi.

Selasa, 12 Mei 2020

Bentuk Pengurus Baru, MSI Kaltim Adakan Webinar Sejarah Lokal Terkait Harkitnas


Samarinda, SejarahKaltim.com
Setelah dua dekade vakum, Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Kalimantan Timur kembali aktif. Kegiatan perdana adalah pelaksanaan seminar secara daring atau webinar bertema “Kalimantan Timur dalam Sejarah Kebangkitan Nasional” pada Kamis, 21 Mei 2020 pukul 10.00–12.00 Wita.

Jumat, 01 Mei 2020

Riwayat Pendidikan Pribumi di Samarinda 1940–1945


A.M. Sangadji dan Abdoel Moeis Hassan, pendiri Balai Pengadjaran dan Pendidikan Rajat 1942.
Sumber foto: Republik Indonesia Provinsi Kalimantan, 1953
Artikel ini merupakan kutipan dari sebuah makalah yang dipresentasikan dalam Seminar Nasional Kepahlawanan Abdoel Moeis Hassan di Aula Bankaltimtara Samarinda, 25 Juni 2019. Kutipan diambil dari bab “Mendirikan Balai Pengajaran dan Pendidikan Rakyat bersama A.M. Sangadji”. Penulisnya adalah Wajidi, sejarawan dan peneliti di Balitbangda Provinsi Kalimantan Selatan.
***

Kamis, 30 April 2020

Yang Sebenarnya dari Lesong Batu di Muara Kaman


Kementerian Penerangan RI tahun 1953 mengungkap, di Muara Kaman ditemukan tiang batu bekas pemujaan. Penduduk setempat menamainya Lesong Batu.

Rabu, 15 April 2020

Menyingkap Asal Usul Martapura dan Martadipura di Kerajaan Kutai Kertanegara


Yang tersohor bukan berarti benar. Yang kurang dikenal belum tentu salah. Kebenaran tidak diukur dari popularitas dan suara terbanyak. Kebenaran ditimbang dengan fakta dan kaidah ilmiah.

Kata Martadipura telanjur terkenal. Ada nama Jembatan Martadipura di Kabupaten Kutai Kartanegara. Ada tambahan ing Martadipura di akhir nama Kesultanan Kutai Kertanegara yang dihidupkan kembali sejak 2001

Bagaimana dengan Martapura? Apa bedanya dengan Martadipura? Apakah Martapura hanya sebuah nama kota di Kalimantan Selatan? 

Jumat, 10 April 2020

Salah Paham Lembu Suwana, Satwa Mitologis Kutai yang Dikira Milik Mulawarman


Patung lembu suwana di Museum Mulawarman Tenggarong.
Fotografi Muhammad Sarip, 2013.
Tanah Kutai pada masa lampau mempunyai dua kerajaan besar. Pertama, Kerajaan Martapura yang didirikan Aswawarman putra Kundungga. Di buku-buku sekolah, kerajaan ini disebut dengan nama Kerajaan Kutai yang diklaim sebagai kerajaan tertua di Nusantara. Pusatnya di Muara Kaman, di hulu Sungai Mahakam. Kerajaan ini berdiri sekitar tahun 400 Masehi dengan pemimpin yang terkenal, Maharaja Mulawarman.

Senin, 30 Maret 2020

Ketika Nama Kundungga, Raja Pertama Kutai Martapura, 'Dikudeta' oleh Kudungga


Prasasti yupa. Foto KITLV
Publik telanjur mengenalnya dengan nama Kudungga. Sebuah nama yang merujuk kepada raja pertama Kutai Martapura yang berdiri di Muara Kaman. Kudungga yang dimaksud tidak lain kakek dari Mulawarman, raja termasyhur Kutai Martapura yang berkuasa pada abad kelima. Kerajaan di hulu Sungai Mahakam ini adalah yang tertua di Indonesia. 

Senin, 23 Maret 2020

Pandemi Influenza di Kaltim Seabad Silam


Masyarakat di pasar Samarinda 1920. Sumber: KITLV
Satu abad yang lalu, tepatnya tahun 1918, wabah influenza menyebar ke seluruh dunia. Bermula bulan Januari, ribuan tentara Prancis menemui ajalnya di parit-parit pertahanan. Mereka mati bukan karena tembakan bedil dan serangan bom. Tetapi, penyakit flu ganas yang telah menewaskan mereka.

Senin, 03 Februari 2020

Saat Kedatangan Jepang ke Samarinda Tahun 1942

Tujuh puluh delapan tahun silam, pada tanggal 3 Februari 1942, balatentara Jepang bergerak menuju Samarinda dari Sanga-Sanga. Pagi harinya situasi kota Samarinda sepi karena sebagian penduduk mengungsi akibat kekhawatiran terjadi pertempuran dahsyat atau pembombardiran kota oleh pesawat tempur Jepang. 

Sabtu, 09 November 2019

Begini Sebabnya Kaltim Belum Dapat Pahlawan Nasional 2019

Hingga Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2019, Kalimantan Timur belum mempunyai seorang pun Pahlawan Nasional. Padahal provinsi tetangga di barat, tengah, dan selatan Kalimantan sudah memiliki prestise dengan Pahlawan Nasionalnya masing-masing.

Sabtu, 02 November 2019

Semangat, Mahasiswa Asing Belajar Sejarah Samarinda

Samarinda, SejarahKaltim.com

Empat mahasiswa asing antusias menyimak presentasi tentang sejarah Kota Samarinda yang disampaikan oleh Muhammad Sarip, pemerhati sejarah lokal, di sebuah kantor penerbit buku di ibu kota Kalimantan Timur, Jumat (1/11/2019).

Senin, 21 Oktober 2019

Media Hong Kong Soroti Tionghoa Kaltim di Ibu Kota Baru Indonesia

Beberapa waktu lalu, surat kabar Hong Kong berbahasa Inggris bernama "South China Morning Post" mengutus wartawannya ke Samarinda. Kedatangannya di pusat pemerintahan Provinsi Kalimantan Timur itu dalam rangka menghimpun informasi sejarah Tionghoa di Kaltim. Hal ini terkait dengan pernyataan Presiden RI Joko Widodo pada 26 Agustus 2019 yang memindahkan ibu kota negara (IKN) Indonesia dari Jakarta ke Kaltim.

SCMP adalah media massa dari Tiongkok Selatan yang menjadi referensi banyak warga Asia dan lintas benua. Jurnalis SCMP bernama Resty Woro Yuniar mewawancarai pemerhati dan penulis sejarah lokal Muhammad Sarip serta pengurus paguyuban Tionghoa setempat., termasuk Gubernur Kaltim Isran Noor. Reportasenya terbit di situs scmp.com edisi 19 Oktober 2019 dengan judul "How ethnic Chinese shaped the home of Indonesia’s new capital on Borneo". 

Teks asli bisa dilihat di tautan: https://www.scmp.com/week-asia/people/article/3033625/how-ethnic-chinese-shaped-home-indonesias-new-capital-borneo.

Berikut ini terjemahan artikel tersebut dalam bahasa Indonesia.

Sabtu, 05 Oktober 2019

Begini, Kali Pertama HUT TNI di Ibu Kota Kaltim


Tanggal 5 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Ulang Tahun Tentara Nasional Indonesia. TNI bermula dari kelahiran Tentara Keamanan Rakyat (TKR)  pada 5 Oktober 1945 yang sebelumnya bernama Badan Keamanan Rakyat (BKR). Nama TNI digunakan sejak 3 Juni 1947, setelah sempat bernama Tentara Keselamatan Rakyat dan Tentara Republik Indonesia.

Minggu, 15 September 2019

Habibie ke Samarinda Disambut Demo, Warga Tak Sadar Banyak Tentara dan Polisi di Rawa


Pengamaman superketat dipantau langsung di TKP oleh Menhankam/Panglima TNI Jenderal Wiranto. Aksi teror peledakan bom sudah terjadi delapan kali sejak Habibie menjadi presiden.


Bacharuddin Habibie menjabat presiden dalam tempo yang paling singkat dalam sejarah Republik. Hanya 17 bulan ia menjadi kepala negara menggantikan Presiden Soeharto. Di tengah situasi krisis nasional multimensi, ia dianggap hanya sebagai presiden transisi untuk mempersiapkan pemilu yang luber dan jurdil.

Kamis, 08 Agustus 2019

Jejak Intel Australia dan Tumbal Kutai di Kandidat IKN Samboja


Kecamuk Perang Pasifik antara Jepang dan Sekutu 1942–1945 meninggalkan jejak di Kalimantan Timur. Ada sumber minyak yang jadi rebutan. Tarakan, Balikpapan, dan Sanga Sanga, tiga di antara kota sumber bahan bakar mesin tempur yang jadi sasaran bombardir.




Jepang yang sudah tiga tahun menduduki Kaltim makin kewalahan. Pasukan Sekutu bersiap merebut Kota Balikpapan dari jalur laut dan darat. Caranya, sebuah regu intelijen dikirim ke lokasi antara Balikpapan dan Samarinda. Lokasi itu kini adalah Kecamatan Samboja.

Semula, Samboja merupakan satu dari kecamatan dalam Kotamadya Samarinda. Sejak 1988 Samboja bergabung ke Kabupaten Kutai. Ketika Kabupaten Kutai dimekarkan pada 1999, kecamatan yang mempunyai Taman Hutan  Raya Bukit Soeharto ini dimasukkan ke Kabupaten Kutai Kartanegara. Pada 2019 kawasan ini dinominasikan sebagai satu di antara kandidat ibu kota Negara (IKN) Republik Indonesia pengganti DKI Jakarta. Presiden Joko Widodo sudah mengunjunginya tanggal 7 Mei lalu.

Awal April 1945 Sekutu berpenetrasi ke Samboja. Ada 14 orang pasukan komando intelijen militer gabungan Sekutu yang bernama SAD Force atau Z Force. Mereka masuk melalui Pantai Tanjung Pamedas, sekitar 40 kilometer di utara Balikpapan.

Tentara pengintai dari Australia ini bertemu dengan dua orang nelayan. Mujur, dua nelayan itu adalah pribumi yang tak suka Jepang. Rakyat Nusantara memang merasakan merasakan penderitaan pada masa pendudukan Jepang. Ini tak sesuai dengan janji Jepang di awal kedatangannya yang menjanjikan kebahagiaan. Rakyat berharap Sekutu dapat menyingkirkan Jepang dari tanah air. Regu intel itu lalu diarahkan ke Pantai Sigagu. Pertimbangannya, Sigagu lebih menjauhi pos penjagaan Jepang di Samboja Kuala.

Singkat cerita, Kepala Penjawat Samboja pun membantu dan memfasilitasi misi rahasia Sekutu ini. Pada masa itu, Kepala Penjawat merupakan istilah untuk kepala pemerintahan setingkat camat. Bangsawan Kesultanan Kutai Kertanegara bernama Aji Raden Ariomidjojo yang menjadi Kepala Penjawat Samboja.

Situasi selanjutnya tidak berjalan lancar. Seorang warga Samboja berjalan kaki ke Samboja Kuala lalu ke Sungai Seluang Samboja. Kemudian, ia menumpang mobil menuju markas Kempeitai di Balikpapan. Peristiwa yang dilihatnya dilaporkan kepada Polisi Militer Jepang. Ternyata, warga yang dikenal bernama Durahman ini merupakan mata-mata Jepang yang tak disadari warga.

Alhasil, pasukan militer Jepang segera dikirimkan ke Samboja. Seluruh daerah Samboja, Handil, sampai Muara Jawa disusuri. Pasukan Z Force dicari. Dua tentara Australia tertangkap setelah merusak sarana komunikasi di Sungai Tiram. Tapi, 12 tentara lainnya tak ditemukan persembunyiannya selama beberapa hari hingga Jepang menemukan bekas perbekalan Sekutu yang tercecer. 

Tembak-menembak terjadi tapi Z Force tak terbekuk karena terhalang medan jurang. Atas bantuan warga, Sekutu dapat meloloskan diri sampai kembali ke laut tanggal 20 April 1945. Tiga hari berselang, sebuah pesawat Catalina Sekutu mendarat di permukaan laut. Catalina mengangkut mereka kembali ke markas di Pulau Morotai (kini termasuk wilayah Provinsi Maluku Utara).

Jepang kesal. Pelampiasannya pada 10 April 1945. Kepala Penjawat Samboja beserta Mantri Polisi H. Amir dan Kepala Kampung H. Arif serta beberapa staf kantor Penjawat ditangkap. Mereka dieksekusi mati. Jenazah mereka tidak ditemukan hingga sekarang.


Demikianlah genderang perang yang senantiasa meminta korban. Tak terkecuali itu di kawasan calon ibu kota baru Negara RI.

______
Pembaruan informasi
Tanggal 26 Agustus 2019 Presiden RI Joko Widodo resmi mengumumkan ibu kota baru negara berlokasi di sebagian wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian Kabupaten Kutai Kartanegara. Namun, detail titiknya belum diungkap. Mengacu peta, ada kemungkinan Kecamatan Sepaku dan Samboja.

Penulis: Muhammad Sarip

Artikel lain:

Senin, 05 Agustus 2019

Belajar dari Sejarah 140 Tahun Carl Bock ke Samarinda

Tanggal 16 Juli 2019, tepat 140 tahun silam Samarinda dikunjungi Carl Bock. Nama Carl Bock tersohor sebagai penulis buku legendaris mengenai penduduk Pulau Kalimantan. Buku itu fenomenal karena judulnya yang horor, yakni The Head-Hunters of Borneo alias Para Pemburu Kepala Kalimantan. Bukunya terbit di London pada 1882 atau tiga tahun usai ekspedisinya ke Pulau Kalimantan.

Rabu, 26 Juni 2019

Seminar Nasional Nilai Abdoel Moeis Hassan Layak Jadi Pahlawan Nasional


SejarahKaltim.com
Sejarawan nasional dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Dr. Agus Suwignyo, M.A. menilai Abdoel Moeis Hassan layak diusulkan sebagai Pahlawan Nasional. Dosen Ilmu Sejarah itu menyatakannya dalam Seminar Nasional Kepahlawanan Abdoel Moeis Hassan di Aula Bank Kaltimtara Samarinda (25/06/2019).

Rabu, 19 Juni 2019

2 Moeis yang Berbeda


Sampai hari ini, masih ada warga Kaltim khususnya Samarinda yang tak tahu ada Moeis selain nama rumah sakit di Samarinda Seberang.

Dicalonkan Gubernur, Malah Ajukan Calon Lain


Teladan Moeis Hassan dalam Sejarah Politik Kaltim

Bukannya langsung bersedia, ia malah mengajukan kandidat lain. Itu dilakukan Abdoel Moeis Hassan ketika para anggota DPRD Kaltim tahun 1962 hendak mengusung dirinya sebagai calon gubernur pengganti A.P.T. Pranoto.

Senin, 17 Juni 2019

Seminar Nasional Kepahlawanan Abdoel Moeis Hassan 25 Juni di Samarinda


SejarahKaltim.com

Seminar Nasional "Kepahlawanan Abdoel Moeis Hassan" akan dilaksanakan pada Selasa, 25 Juni 2019, di Aula Bankaltimtara Jl. Jend. Sudirman Samarinda. Hal ini diputuskan dalam rapat Pemkot Samarinda bersama tim pengusul dari Lembaga Studi Sejarah Lokal Komunitas Samarinda Bahari (Lasaloka-KSB) dan pimpinan cabang utama Samarinda Bankaltimtara, Selasa (18/6/2019).

Senin, 20 Mei 2019

Begini Hubungan Awang Faroek dan Moeis Hassan


Abdoel Moeis Hassan dan Awang Faroek Ishak sama-sama pernah menjadi Gubernur Kalimantan Timur. Tetapi, mereka berbeda periode. Moeis Hassan menjabat pada masa Demokrasi Terpimpin yakni 1962–1966. Adapun Awang Faroek menjabat 42 tahun setelah Moeis berhenti sebagai gubernur, yakni pada 2008–2018.

Minggu, 19 Mei 2019

Asal Usul Hari Kebangkitan Nasional di Kaltim


Hari Kebangkitan Nasional di Kalimantan Timur bermula dari peringatan 40 Tahun Kebangunan Nasional di Samarinda pada 20 Mei 1948.

Minggu, 21 April 2019

Kartini Kaltim Tempo Dulu dan Kartini Milenial

Muhammad Sarip dan Nabila Nandini, narasumber dari
Lasaloka-KSB dan tim pengusul Pahlawan Nasional Kaltim
Abdoel Moeis Hassan.
Sumber foto: HMPS FKIP Unmul.
Seminar Hari Kartini 2019 di Rektorat Unmul

Sedikitnya ada tiga figur perempuan Kaltim tempo dulu yang punya kiprah cemerlang. Ketiganya yaitu Salbiah, Djoemantan Hasjim, dan Fatimah. Hal ini diungkap oleh Muhammad Sarip dalam Seminar Sejarah Lokal Refleksi Hari Kartini 2019 di Rektorat Universitas Mulawarman Samarinda (18/4).

Senin, 11 Maret 2019

Kiprah Perempuan Kaltim Tempo Dulu Diseminarkan di Unmul 18 April

Anda ingin mengetahui para figur teladan perempuan di Kalimantan Timur zaman dulu? Anda bisa menghadiri Seminar Sejarah Lokal bertajuk "Refleksi Hari Kartini: Kiprah Teladan Perempuan Kaltim Tempo Doeloe” pada 18 April 2019 di Gedung Rektorat Universitas Mulawarman Samarinda.

Minggu, 24 Februari 2019

170 Tahun Naskah Salasilah Kutai


Tanggal 24 Februari 2019, tepat 170 tahun silam naskah “Salasilah Raja dalam Negeri Kutai Kertanegara” selesai ditulis. Manuskrip beraksara Jawi alias Arab-Melayu ini digarap oleh juru tulis istana bernama Khatib Muhammad Tahir. Orang Banjar ini menyelesaikan tulisannya pada 24 Februari 1849 atau 30 Rabiul Awal 1265 H.

Selasa, 19 Februari 2019

Ketika Jukung Banjar Masuk Mahakam 5 Abad Silam



Lima abad yang lalu, jukung memasuki Sungai Mahakam. Perahu khas Kalimantan itu mengangkut para utusan Pangeran Samudra. Mereka datang dari Banjarmasin yang kala itu menjadi pangkalan militer kubu Pangeran Samudra alias Pangeran Suriansyah.  

Senin, 04 Februari 2019

Riwayat Tionghoa di Pusat Timur Kalimantan



Pecinan Samarinda 1930. Sumber: koleksi Lola Devung
Kejadiannya tujuh abad silam. Sebuah bukit di pesisir muara Sungai Mahakam dinamai Jaitan Layar. Asal usulnya adalah kegiatan rombongan saudagar dari Tiongkok yang menjahit layar kapal di bukit tersebut. Nama itu dicetuskan oleh sang pendiri Kerajaan Kutai Kertanegara, yakni Aji Batara Agung Dewa Sakti. Manuskrip “Salasilah Raja dalam Negeri Kutai Kertanegara” beraksara Arab-Melayu yang selesai ditulis pada 1849 mewartawakan hal ini.

Selasa, 22 Januari 2019

Menggugat Hari Jadi Samarinda


Ini fenomena langka. Barangkali hanya Samarinda satu-satunya kota yang mempunyai Hari Jadi Kota dan Hari Ulang Tahun (HUT) Pemerintah Kota dalam satu tanggal. Pada 21 Januari 2019 Samarinda memperingati Hari Jadi Kota ke-351 dan HUT Pemkot ke-59. Namun, ada kontroversi di baliknya.

Jumat, 21 Desember 2018

Salah Kaprah Hari Ibu


Momentum Hari Ibu setiap 22 Desember belakangan berubah menjadi hari libur kaum ibu untuk urusan dapur dan rumah tangga. Pemaknaan Hari Ibu juga terbelok ketika orientasi industri mempraktikkan berbagai ajang kompetisi nasi tumpeng, lomba kebaya, dan tanding memasang dasi.

Rabu, 19 Desember 2018

Beda Nasib Magazijn Loa Kulu dan Roemah Boendar Tarakan

Masih ingat dengan insiden ambruknya Magazijn di Loa Kulu pada 11 Oktober silam? Nasib berbeda dialami oleh bangunan serupa di Kota Tarakan (kini masuk Provinsi Kalimantan Utara) yang dikenal dengan nama "Roemah Boendar". Kru SejarahKaltim.com berkesempatan mengunjungi bangunan yang kini menjadi Museum Flora dan Fauna yang dikelola Dinas Lingkungan Hidup Kota Tarakan.

Senin, 19 November 2018

Berau Seminarkan Raja Alam Jadi Pahlawan Nasional, Syarat Belum Lengkap

Raja Alam diyakini masyarakat Berau pernah melakukan perlawanan terhadap Belanda pada tahun 1834. Pemimpin Kesultanan Sambaliung bergelar Sultan Alimuddin itu kemudian tertangkap dan dibuang ke Makassar pada tahun tersebut. 

Senin, 19 November 2018 Pemerintah Kabupaten Berau mengadakan seminar nasional untuk membahas usulan Raja Alam sebagai Pahlawan Nasional. Seminar ini merupakan yang kedua kalinya setelah seminar yang pertama 15 tahun silam. 

Senin, 12 November 2018

Willem Oltmans, Sukarno, Samarinda & Lapangan Pemuda

Willem Oltmans adalah pria kelahiran Huizen, Belanda, pada 10 Juni 1925. Ia meninggal pada 30 September 2004 di Amsterdam, Belanda, karena kanker hati. Oltmans menempuh pendidikan di Nyenrode Business University dan Yale University. Pekerjaannya adalah wartawan investigasi, penerbit dan peng-interview

Sebagai wartawan investigasi dan penulis, Oltsmans aktif dalam menelisik perpolitikan internasional. Pada kisaran tahun 1956, tidak sehaluan dengan pemerintahan negaranya di Belanda, Oltmans malah mewawancara Presiden Sukarno. Dalam perkembangannya, Oltmans kemudian menjadi kepercayaan Sukarno dan wira-wiri ikut kegiatan tuan presiden. 

Jumat, 09 November 2018

Kronologi Riwayat Perjuangan Abdoel Moeis Hassan


1924: Lahir di Samarinda (2 Juni), dari ayah-ibu etnis Banjar kelahiran Samarinda.
1940: Dalam usia enam belas tahun mendirikan sekaligus mengetuai Roekoen Pemoeda Indonesia (Roepindo) sebagai organisasi kepemudaan di Samarinda yang menghimpun dan membangkitkan semangat kaum muda serta menanamkan kesadaran berbangsa, berbahasa, dan bertanah air Indonesia.

Kamis, 08 November 2018

Aneh, TMP Zonder Pahlawan Nasional


“Aneh, negara zonder tentara.”

Zonder dari bahasa Belanda, artinya tanpa. Suatu keganjilan jika ada negara tanpa memiliki angkatan perang. Ungkapan ini dipopulerkan Oerip Soemohardjo usai Proklamasi Indonesia 17 Agustus 1945 karena ketiadaan angkatan bersenjata untuk Negara Republik Indonesia yang baru berdiri.

“Aneh, TMP zonder Pahlawan Nasional.” Ini kata saya.

Rabu, 07 November 2018

P.M. Noor Resmi Jadi Pahlawan Nasional dari Kalsel

Hari ini, warga Kalimantan patut berbangga. Satu lagi putra terbaiknya dinobatkan pemerintah pusat sebagai Pahlawan Nasional. 

Senin, 05 November 2018

Lini Masa Proses Usulan Calon Pahlawan Nasional Abdoel Moeis Hassan (Tahap I)


2 Juni 2018
Seminar dan Bedah Buku “Mengungkap Peran Sentral Moeis Hassan dalam Sejarah Perjuangan dan Revolusi di Kalimantan Timur” di Gedung Perpustakaan Daerah Kaltim menghasilkan penilaian bahwa tokoh Abdoel Moeis Hassan memenuhi kriteria calon Pahlawan Nasional dan layak diajukan sebagai calon Pahlawan Nasional dari Kaltim.
Narasumber: Muhammad Asli Amin (Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Kaltim), Slamet Diyono (Kepala Bidang Sejarah dan Tradisi Dinas Kebudayaan Kota Samarinda), Suparmin (Kepala Bidang Aplikasi dan Layanan E-Government Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Samarinda), Muhammad Sarip (penulis sejarah lokal dan anggota Dewan Pengurus Lasaloka-KSB).
Moderator: Nabila Nandini (jurnalis televisi).

Senin, 29 Oktober 2018

Biografi Pahlawan Kaltim Diluncurkan, Video Samarinda 1947 Ditayangkan di Seminar HMPS Unmul

SejarahKaltim.com   |

Sebuah video klasik berkisah tentang Samarinda 71 tahun silam ditayangkan di Seminar Kesejarahan di Aula Kampus FKIP Universitas Mulawarman Samarinda pada Senin, 29 Oktober 2018. Narasi rekaman berbahasa Belanda diterjemahkan oleh moderator seminar, Nabila Nandini.

Senin, 22 Oktober 2018

Wakil Rektor III Unmul Apresiasi Seminar Pahlawan Moeis Hassan

SejarahKaltim.com   | 
Baru berdiri pada 2013 sebagai sebuah program konsentrasi di bawah jurusan PPKn di FKIP Universitas Mulawarman, Pendidikan Sejarah rutin menggelar diskusi publik secara formal mengenai kesejarahan. Sejak 2016 hingga kini, lebih lima kali seminar/diskusi sejarah diadakan di Kampus FKIP Unmul. 

Senin, 29 Oktober 2018 seminar sejarah kembali digelar di Aula Kampus FKIP Unmul, Jl. Bangeris Samarinda. Tajuknya, “Membaca Kembali Jejak Perjuangan Abdoel Moeis Hassan di Kalimantan Timur”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah (HMPS) dalam rangkaian Pekan Sejarah (Panah) Mulawarman 2018. 

Kamis, 18 Oktober 2018

Sejarah Juang Abdoel Moeis Hassan Diseminarkan di Unmul 29 Oktober

Banyak yang tidak mengetahui bahwa Abdoel Moeis Hassan adalah tokoh pendiri Universitas Mulawarman. Ironis lagi, banyak yang menyangka Moeis yang pejuang dan gubernur itu adalah nama Rumah Sakit Umum di Samarinda Seberang. Padahal, I.A. Moeis yang nama RSUD itu bukanlah Abdoel Moeis Hassan.

Seminar bertajuk “Membaca Kembali Jejak Perjuangan Abdoel Moeis Hassan di Kalimantan Timur” akan digelar di Kampus FKIP Universitas Mulawarman, Senin, 29 Oktober 2018. Acara ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah (HMPS) Universitas Mulawarman dalam rangkaian Pekan Sejarah Mulawarman 2018. 

Rabu, 10 Oktober 2018

Magazijn Ambruk, Tanggung Jawab Siapa?

Satu lagi bangunan tua peninggalan zaman kolonial di Kalimantan Timur sirna. Derasnya hujan yang mengguyur Kecamatan Loa Kulu pada Kamis pagi 11 Oktober 2018 membuat bekas kantor Oost Borneo Maatschappij (OBM) bernama Magazijn ambruk. 

Magazijn adalah kompleks bangunan di tepi sungai di Loa Kulu, ruas antara Loa Janan dan Tenggarong. Bangunan ini merupakan buatan Belanda yang pada awalnya digunakan untuk kantor OBM dan selanjutnya digunakan sebagai Kantor Penerangan. Dulu, ada papan informasi yang tulisannya adalah “Pemberian Tahu”. 

Senin, 08 Oktober 2018

Seminar Cagar Budaya untuk Edukasi Masyarakat

SejarahKaltim.com | Masyarakat perlu diedukasi tentang cagar budaya. Hal ini sebagai satu dari wujud pelestarian budaya. Karenanya, sebuah seminar bertajuk "Cagar Budaya: Apa dan Bagaimana" akan diselenggarakan di Hotel Mesra pada Sabtu, 13 Oktober 2018. Seminar di Ruang Mancong ini digelar oleh Yayasan Bunga Bangsa Society. 

Bahtiar Fahrudin dari panitia pelaksana mengungkapkan, narasumber seminar ini ada dua orang. Pembicara pertama adalah Saiful Mujahid, S.H., M.H., tim penyusun UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Kini, ia menjabat Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Banten. Pembicara kedua adalah Drs. I Made Kusumajaya, M.Si., mantan Kepala Bagian Perencanaan dan Hukum Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia. Made juga pernah menjadi Kepala BPCB Provinsi Kalimantan Timur periode 2012-2017. 

Jumat, 05 Oktober 2018

Dua Pangeran Kutai ke Belanda Hadiri Penobatan Ratu Wilhelmina

Di antara kisah kedekatan Sultan Kutai, Aji Muhammad Sulaiman dengan pemerintahan Hindia Belanda adalah dikirimnya dua putra mahkota ke Belanda. Mereka adalah Amidin dan Hassanoedin. Bahkan kedua pangeran itu, turut hadir dalam Penobatan Ratu Wilhelmina, 9 September 1898.

“1898—De Sultan van Koetei zendt twee zoons naar Holland, Om hem te vertegenwoordigen by de inhuldigingsfeesten; hy wordt benoem tot Commandeur in de Orde van Oranje Nassau, zyn oudste zoon tot officier in die orde. Verder sluit hy eenige suppletoire overeenkomsten ter aanvulling van het politiek contract,” tulis Eisenberger dalam Kroniek der Zuider-En Oosterafdeling van Borneo.

Kamis, 04 Oktober 2018

HUT TNI Kali Pertama di Samarinda, Bukan Militer yang Merayakannya

Perubahan nama Badan Keamanan Rakyat (BKR) menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR)  pada 5 Oktober 1945 menjadi dasar penetapan Hari Ulang Tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI). Sebelum bernama TNI sejak 3 Juni 1947, militer Indonesia ini dari Tentara Keamanan Rakyat (1945) berganti Tentara Keselamatan Rakyat (7 Januari 1946), dan Tentara Republik Indonesia (26 Januari 1946)

Situasi Republik yang masih berperang dengan Belanda menyebabkan tiada kesempatan bagi TNI memikirkan seremonial peringatan hari jadinya. Bahkan, di Samarinda TNI baru terbentuk pada akhir 1949. Artinya, selama lebih dari empat tahun sejak Proklamasi 1945, Kalimantan Timur tidak mempunyai barisan militer resmi dari pihak RI.

Senin, 01 Oktober 2018

Fakta dan Hoax Seputar PKI di Kaltim


Kawasan sekitar Jalan Arief Rahman Hakim Samarinda tempo dulu dikenal sebagai bagian Kampung Sungai Pinang. Ada sebuah tugu unik di perempatan jalan di kawasan tersebut. Bentuknya adalah alat pertukangan dan pertanian, yakni palu dan arit. Letaknya di depan kantor sebuah partai politik besar kala itu. Awal 1966 tugu itu dihancurkan massa.

Massa yang emosi melampiaskan amarah karena mendapat kabar bahwa partai itu adalah sarangnya orang-orang yang tidak beragama dan anti-Tuhan. Partai itu juga dituduh sebagai dalang dan pelaku pembunuhan sadis para jenderal TNI Angkatan Darat pada 1 Oktober 1965 serta akan membinasakan semua orang yang taat beragama.

Minggu, 30 September 2018

PKI di Benua Etam dan Tumbalnya


“Kakek saya simpatisan Masyumi, dikejar-kejar orang PKI, mau dibunuh.” Seorang teman menceritakan pengalaman hidup kakeknya tahun 1965 kepada penulis. “Alhamdulillah, kakek saya selamat dalam persembunyian,” lanjutnya.

Lain lagi dengan kisah teman yang lain. “Kakek saya dulu petani. Pas dekat Pemilu 1971 ada partai yang membagikan bibit disertai brosur. Kakek saya lalu diciduk aparat dan ditahan selama sebulan. Kakek saya dituduh simpatisan PKI. Tapi akhirnya dibebaskan karena kakek saya sama sekali tidak pernah ikut PKI atau organ sayapnya.”

Kamis, 27 September 2018

Asal Usul Tepian Pandan Jadi Tenggarong

Lima puluh tahun setelah beristana di Pemarangan-Jembayan, Kesultanan Kutai Kertanegara memindahkan ibu kotanya ke Tenggarong pada 28 September 1782. Naskah asli Salasilah Kutai yang ditulis tahun 1849 (bukan buku yang berjudul Salasilah Kutai terbitan 1979 dan 1981) tidak mengungkap alasan pemindahan tersebut. Namun, terdapat alasan yang masyhur dari folklor (cerita rakyat) bahwa Jembayan dianggap tidak bertuah lagi sehingga perlu mencari lokasi yang baru untuk istana sultan.

Selasa, 25 September 2018

Hampatong


Dibantu Pastor Fr. Groot selama di Samarinda, Jacob Vredenbregt memasuki jantung-jantung kebudayaan Kalimantan. Ahli antropologi yang malang melintang di universitas ternama Indonesia itu, memberikan penjabaran yang menarik tentang kebudayaan dengan cara yang cermat.

Selama delapan tahun Vredenbregt membantu Universitas Indonesia, kemudian Universitas Hasanuddin dan juga Universitas Lambung Mangkurat, menjadikannya sosok yang tak diragukan mengenai antropologi, serta memiliki jaringan dengan para sejarawan ternama termasuk Andri Lapian sampai Alexander van der Leeden. Salah satu yang menarik perhatiannya yakni patung-patung kayu Dayak atau hampatong.

Sabtu, 22 September 2018

Mahasiswa Sejarah Unmul Belajar dari Situs Loa Kulu

SejarahKaltim.com 
Tak cukup dengan belajar teori sejarah di ruang perkuliahan, para mahasiswa melakukan “Study and Travelling” ke situs bersejarah di Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, pada Sabtu (22/9). Perjalanan mereka dikoordinasi oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah (HMPS) FKIP Universitas Mulawarman. 

Penelusuran bangunan dan tempat bersejarah di bekas kota tua ini dipandu oleh Supriyanto, seorang peneliti Loa Kulu yang direkomendasikan oleh Fajar Alam, penulis buku Sejarah Loa Kulu Kejayaan & Keruntuhan Kota Tambang Kolonial di Tanah Kutai 1888–1970. 


Jumat, 21 September 2018

Abdoel Moeis Hassan Pejuang Republiken dan Pelopor Pembaharuan di Kalimantan Timur Sebuah Biografi


Abdoel Moeis Hassan is a frontliner of young movement, Republican battler, and pioneer of East Kalimantan awakening during 1940-1966. He is contributing in part out East Kalimantan from the Federal State of Republican Union of States of Indonesia and a pioneer of the integration of the East Kalimantan Residency into the Republic of Indonesia. This research relates to his role as a leading figure to defend the Republic of Indonesia in East Kalimantan. In this biography, research begins in Abdoel Moeis Hassan childhood to juveniles which is filled with the spirit of nationalism by the family environment and the surrounding community.