Tampilkan postingan dengan label Zaman Kolonial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zaman Kolonial. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 September 2026

Sejarah Tak Harus Kuno, Cover Buku Sarekat Islam di Kaltim Usung Estetika Retro Y2K dari NewJeans

Rara Suciati, Ria Lestari, Vian, M Ilham Syahputra, Muhammad Sarip, Paramitha Putri Hidayat, Rahayu Permatasari
 

SAMARINDA – Siapa bilang buku sejarah harus selalu tampil dengan kesan kuno? Pertanyaan itulah yang coba dijawab Paramitha Putri Hidayat melalui desain cover buku Sarekat Islam di Kalimantan Timur: Sejarah Perjuangan dari Pasar Pagi Samarinda, Istana Kutai, hingga Perang Sultan Paser.

Senin, 18 Mei 2026

Spirit Sultan AM Idris untuk Generasi Muda

Fotografer: Lizzy

Lasaloka KSB dan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kutai Kartanegara menggelar forum bertajuk "Pahlawan Nasional Sultan Aji Muhammad Idris; Spirit Masa Silam dan Teladan Masa Kini" di Tangga Arung Square (TAS), Tenggarong, Senin, 18 Mei 2026. Forum bertujuan merawat ingatan tentang pahlawan Kaltim.

Sejumlah narasumber dihadirkan antara lain sejarawan publik Kaltim, Muhammad Sarip; Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri; serta Pemuda Pelopor Kaltim 2024 bidang pendidikan, Ada Al Ali Murrabbaniah. Para pesertanya berasal dari kalangan pelajar, mahasiswa, jurnalis, komunitas literasi, hingga Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kukar. Praktisi media Kaltim, Ricardo Bobby Lolowang, memandu jalannya forum.

Rabu, 27 Agustus 2025

Dari Sejarah Industrial, Perubahan Iklim, hingga Antisipasi Bencana dalam Workshop Pusat Studi Borneo UMKT


Samarinda, SejarahKaltim.com – Diproyeksikan sebanyak lebih dari 60% penduduk Kalimantan akan terdampak panas ekstrem pada tahun 2075. Bencana kebakaran dan banjir juga diprediksi akan meningkat.

Senin, 06 September 2021

Belajar dari Sejarah 140 Tahun Carl Bock ke Samarinda

Tanggal 16 Juli 2019, tepat 140 tahun silam Samarinda dikunjungi Carl Bock. Nama Carl Bock tersohor sebagai penulis buku legendaris mengenai penduduk Pulau Kalimantan. Buku itu fenomenal karena judulnya yang horor, yakni The Head-Hunters of Borneo alias Para Pemburu Kepala Kalimantan. Bukunya terbit di London pada 1882 atau tiga tahun usai ekspedisinya ke Pulau Kalimantan.

Jumat, 01 Mei 2020

Riwayat Pendidikan Pribumi di Samarinda 1940–1945


A.M. Sangadji dan Abdoel Moeis Hassan, pendiri Balai Pengadjaran dan Pendidikan Rajat 1942.
Sumber foto: Republik Indonesia Provinsi Kalimantan, 1953

Artikel ini merupakan kutipan dari makalah yang dipresentasikan dalam Seminar Nasional Kepahlawanan Abdoel Moeis Hassan di Aula Bankaltimtara Samarinda, 25 Juni 2019. Naskah diambil dari bab "Mendirikan Balai Pengajaran dan Pendidikan Rakyat bersama A.M. Sangadji". Penulisnya adalah Wajidi, sejarawan dan peneliti pada Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Kalimantan Selatan.

***

Senin, 23 Maret 2020

Pandemi Influenza di Kaltim Seabad Silam


Masyarakat di pasar Samarinda 1920. Sumber: KITLV
Satu abad yang lalu, tepatnya tahun 1918, wabah influenza menyebar ke seluruh dunia. Bermula bulan Januari, ribuan tentara Prancis menemui ajalnya di parit-parit pertahanan. Mereka mati bukan karena tembakan bedil dan serangan bom. Tetapi, penyakit flu ganas yang telah menewaskan mereka.

Senin, 03 Februari 2020

Saat Kedatangan Jepang ke Samarinda Tahun 1942

Tujuh puluh delapan tahun silam, pada tanggal 3 Februari 1942, balatentara Jepang bergerak menuju Samarinda dari Sanga-Sanga. Pagi harinya situasi kota Samarinda sepi karena sebagian penduduk mengungsi akibat kekhawatiran terjadi pertempuran dahsyat atau pembombardiran kota oleh pesawat tempur Jepang. 

Rabu, 19 Desember 2018

Beda Nasib Magazijn Loa Kulu dan Roemah Boendar Tarakan

Masih ingat dengan insiden ambruknya Magazijn di Loa Kulu pada 11 Oktober silam? Nasib berbeda dialami oleh bangunan serupa di Kota Tarakan (kini masuk Provinsi Kalimantan Utara) yang dikenal dengan nama "Roemah Boendar". Kru SejarahKaltim.com berkesempatan mengunjungi bangunan yang kini menjadi Museum Flora dan Fauna yang dikelola Dinas Lingkungan Hidup Kota Tarakan.

Jumat, 05 Oktober 2018

Dua Pangeran Kutai ke Belanda Hadiri Penobatan Ratu Wilhelmina

Di antara kisah kedekatan Sultan Kutai, Aji Muhammad Sulaiman dengan pemerintahan Hindia Belanda adalah dikirimnya dua putra mahkota ke Belanda. Mereka adalah Amidin dan Hassanoedin. Bahkan kedua pangeran itu, turut hadir dalam Penobatan Ratu Wilhelmina, 9 September 1898.

“1898—De Sultan van Koetei zendt twee zoons naar Holland, Om hem te vertegenwoordigen by de inhuldigingsfeesten; hy wordt benoem tot Commandeur in de Orde van Oranje Nassau, zyn oudste zoon tot officier in die orde. Verder sluit hy eenige suppletoire overeenkomsten ter aanvulling van het politiek contract,” tulis Eisenberger dalam Kroniek der Zuider-En Oosterafdeling van Borneo.

Selasa, 12 September 2017

Misteri Penambangan Batu Bara di Palaran


Palaran telah lama dikenal sebagai satu dari sekian tempat yang menjadi lokasi kegiatan penambangan batu bara di era kolonial Belanda. Palaran terletak sekitar 8 km di tenggara pusat kota Samarinda apabila menyusur sungai Mahakam. Secara administratif, lokasi ini masih termasuk dalam wilayah Kota Samarinda.

Kamis, 05 Januari 2017

Sejarah Samarinda dari Masa ke Masa

Samarinda ialah ibu kota Provinsi Kalimantan Timur, kawasan dataran rendah di pesisir timur Pulau Kalimantan. Daratan geografi Samarinda dibelah oleh Sungai Mahakam selebar ±400 meter dan diiris oleh sekitar 34 anak dan cabang Sungai Mahakam.
Perkembangan permukiman di wilayah Samarinda bermula dari eksistensi lima kampung di sebelah utara Sungai Mahakam yaitu Pulau Atas, Sambutan, Karang Mumus, Karang Asam, dan Loa Bakung serta satu kampung di selatan Mahakam yakni Mangkupalas. Keenam kampung tersebut merupakan komunitas kuno Samarinda yang eksis minimal sejak abad ke-13 Masehi (kisaran tahun 1200-an), sebelum berdirinya Kerajaan Kutai Kertanegara di Kutai Lama tahun 1300.

Sabtu, 02 Januari 2016

Awal Tambang Batu Bara di Samarinda

Banyak materi yang saya himpun tentang sejarah penambangan batubara awal di Samarinda pada era kolonial Belanda. Namun, masih belum cukup waktu untuk mengerjakan tulisannya.
Sementara, silakan disimak coretan berikut ya .. .

Minggu, 27 Desember 2015

Jejak Kolonial Belanda di Makam Tua Jalan Arjuna Samarinda

Prolog
Samarinda telah menarik perhatian bangsa Eropa, utamanya Belanda, sekurangnya sejak abad ke-19, ketika sumber daya alam hasil hutan seperti rotan, dammar dan lainnya banyak diperdagangkan. Di penghujung abad ke-19, ketertarikan Belanda terhadap sumber daya alam bergeser dari sumber daya alam hayati dari kehutanan dan perkebunan ke sumber daya alam nonhayati berupa hasil tambang seiring era industri di Eropa yang sedang berkembang. Kalimantan bagian timur merupakan satu di antara kawasan yang dianggap memiliki nilai ekonomi strategis bidang pertambangan saat itu, dengan mulainya Belanda mengembangkan industri pertambangan.