Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Agustus 2025

Pangdam Mulawarman ke Unmul 1963


Sekitar tahun 1963 Kampus Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda kedatangan Pangdam IX Mulawarman, Kolonel Soehario Padmodiwirio. Sebuah foto lawas yang dimuat dalam buku Kalimantan Timur Apa Siapa dan Bagaimana terbitan 2004 mendokumentasikan perwira militer yang biasa disapa Hario Kecik tersebut berpidato dengan latar atribut lambang Unmul.

Senin, 21 Oktober 2019

Media Hong Kong Soroti Tionghoa Kaltim di Ibu Kota Baru Indonesia

Beberapa waktu lalu, surat kabar Hong Kong berbahasa Inggris bernama "South China Morning Post" mengutus wartawannya ke Samarinda. Kedatangannya di pusat pemerintahan Provinsi Kalimantan Timur itu dalam rangka menghimpun informasi sejarah Tionghoa di Kaltim. Hal ini terkait dengan pernyataan Presiden RI Joko Widodo pada 26 Agustus 2019 yang memindahkan ibu kota negara (IKN) Indonesia dari Jakarta ke Kaltim.

SCMP adalah media massa dari Tiongkok Selatan yang menjadi referensi banyak warga Asia dan lintas benua. Jurnalis SCMP bernama Resty Woro Yuniar mewawancarai pemerhati dan penulis sejarah lokal Muhammad Sarip serta pengurus paguyuban Tionghoa setempat., termasuk Gubernur Kaltim Isran Noor. Reportasenya terbit di situs scmp.com edisi 19 Oktober 2019 dengan judul "How ethnic Chinese shaped the home of Indonesia’s new capital on Borneo". 

Teks asli bisa dilihat di tautan: https://www.scmp.com/week-asia/people/article/3033625/how-ethnic-chinese-shaped-home-indonesias-new-capital-borneo.

Berikut ini terjemahan artikel tersebut dalam bahasa Indonesia.

Senin, 01 Oktober 2018

Fakta dan Hoax Seputar PKI di Kaltim


Kawasan sekitar Jalan Arief Rahman Hakim Samarinda tempo dulu dikenal sebagai bagian Kampung Sungai Pinang. Ada sebuah tugu unik di perempatan jalan di kawasan tersebut. Bentuknya adalah alat pertukangan dan pertanian, yakni palu dan arit. Letaknya di depan kantor sebuah partai politik besar kala itu. Awal 1966 tugu itu dihancurkan massa.

Massa yang emosi melampiaskan amarah karena mendapat kabar bahwa partai itu adalah sarangnya orang-orang yang tidak beragama dan anti-Tuhan. Partai itu juga dituduh sebagai dalang dan pelaku pembunuhan sadis para jenderal TNI Angkatan Darat pada 1 Oktober 1965 serta akan membinasakan semua orang yang taat beragama.

Minggu, 30 September 2018

PKI di Benua Etam dan Tumbalnya


“Kakek saya simpatisan Masyumi, dikejar-kejar orang PKI, mau dibunuh.” Seorang teman menceritakan pengalaman hidup kakeknya tahun 1965 kepada penulis. “Alhamdulillah, kakek saya selamat dalam persembunyian,” lanjutnya.

Lain lagi dengan kisah teman yang lain. “Kakek saya dulu petani. Pas dekat Pemilu 1971 ada partai yang membagikan bibit disertai brosur. Kakek saya lalu diciduk aparat dan ditahan selama sebulan. Kakek saya dituduh simpatisan PKI. Tapi akhirnya dibebaskan karena kakek saya sama sekali tidak pernah ikut PKI atau organ sayapnya.”

Sabtu, 21 April 2018

Emansipasi Perempuan Kutai Zaman Dulu

Ratusan tahun sebelum kelahiran Raden Ajeng Kartini 21 April 1879, masyarakat Kutai di daratan timur Pulau Kalimantan sudah mempraktikkan kesetaraan gender secara riil. Persamaan derajat laki-laki dan perempuan itu pun dalam bidang yang strategis, yakni politik pemerintahan.

Selasa, 10 April 2018

5 Tahun Usai Proklamasi, Kaltim Baru Gabung RI


Bukan 17 Agustus 1945, bukan pula 27 Desember 1949. Wilayah Kalimantan Timur baru bergabung ke dalam Negara Republik Indonesia secara resmi pada 10 April 1950.

Sebelumnya, pada awal 1950 rakyat Kaltim dalam wadah koalisi Front Nasional yang dipimpin Abdoel Moeis Hassan (bukan Inche Abdoel Moies) menuntut penghapusan swapraja-swapraja alias empat Kesultanan yang ada di Kaltim serta menuntut agar Federasi Kaltim bergabung ke RI.

Kamis, 09 November 2017

Kisah Kali Pertama Hari Pahlawan Diperingati di Samarinda

Pertempuran heroik di Surabaya, 10 November 1945 ditetapkan sebagai Hari Pahlawan. Setahun kemudian, 10 November 1946, mestinya menjadi momentum peringatan pertama pertempuran tersebut. Tetapi, itu tidak terjadi.

Lantas, kapankah Hari Pahlawan diperingati pertama kali di Samarinda? Di mana upacaranya? Siapa tokoh yang memelopori peringatan Hari Pahlawan perdana di ibu kota Kalimantan Timur?

Rabu, 23 Agustus 2017

Polemik Bendera Merah-Putih di Keraton Kutai Tenggarong 1945

Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 baru diketahui penduduk Tenggarong pada pekan kedua bulan September 1945. Kabar ini diperoleh di antaranya melalui radio milik seorang montir listrik bernama Kasan. Teknisi dari Surabaya yang sudah lama berdomisili di Tenggarong itu rajin membunyikan radionya sehingga para pemuda kerap berkumpul di rumahnya untuk sama-sama mendengarkan siaran berita. Kala itu, berita yang mendominasi adalah seputar peperangan antara Jepang melawan sekutu.

Jumat, 07 Juli 2017

Integrasi Kutai Kertanegara dalam Negara Federal Majapahit

Naskah kuno Salasilah Kutai (1849) merupakan karya tulis pujasastra sekaligus berfungsi sebagai sumber sejarah. Sebagai tulisan dari perspektif intern Kutai, naskah tersebut tidak mengungkap status Kutai Kertanegara sebagai bawahan dari Kerajaan Majapahit. Namun, secara tersirat, superioritas dan hegemoni Majapahit tampak dari riwayat berkunjungnya Raja Kutai Kertanegara ke-3 pada abad XIV ke ibu kota Kerajaan Majapahit.
Kala itu, Maharaja Sultan dan saudaranya yang bernama Maharaja Sakti, dari Kutai Lama melakukan studi banding ke Kerajaan Majapahit. Di istana Majapahit, mereka bertemu dengan Patih tersohor, Gajah Mada. Mereka menimba ilmu ketatanegaraan, tata krama, dan kebudayaan dari Raja Berma Wijaya (Brawijaya). Hal ini mengindikasi kedudukan Majapahit yang lebih tinggi dari aspek peradaban maju sebagai pusat ilmu pengetahuan.

Rabu, 03 Februari 2016

Awal Kemenangan Jepang di Samarinda

Terjuntainya bendera merah-putih-biru ke tanah, pertanda menyerahnya Pemerintah Belanda di Samarinda.
Tanggal 3 Februari 1942 balatentara Jepang bergerak menuju Samarinda dari Sanga Sanga. Pagi harinya situasi kota Samarinda sepi karena sebagian penduduk mengungsi akibat kekhawatiran terjadi pertempuran dahsyat atau pembombardiran kota oleh pesawat tempur Jepang. Penduduk mendapat kabar bahwa tentara Jepang sudah menguasai Sanga Sanga dan itu berarti Samarinda pasti akan diserang juga oleh Jepang.