Tampilkan postingan dengan label Zaman Revolusi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zaman Revolusi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Agustus 2025

Pangdam Mulawarman ke Unmul 1963


Sekitar tahun 1963 Kampus Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda kedatangan Pangdam IX Mulawarman, Kolonel Soehario Padmodiwirio. Sebuah foto lawas yang dimuat dalam buku Kalimantan Timur Apa Siapa dan Bagaimana terbitan 2004 mendokumentasikan perwira militer yang biasa disapa Hario Kecik tersebut berpidato dengan latar atribut lambang Unmul.

Selasa, 25 Maret 2025

Menilik Sejarah Dwifungsi ABRI di Benua Etam


Balikpapan
- Samarinda-Seiring disahkannya UU TNI yang baru, narasi dwifungsi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) kembali menguat setelah dibendung gerakan reformasi dua dekade silam. Konsep peran ganda militer dalam kehidupan bernegara ini sempat diterapkan di Indonesia, termasuk di Bumi Ruhui Rahayu, Kalimantan Timur (Kaltim). Bahkan dimulai sebelum orde baru pada 1966.

Minggu, 16 Agustus 2020

Sabtu, 05 Oktober 2019

Begini, Kali Pertama HUT TNI di Ibu Kota Kaltim


Tanggal 5 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Ulang Tahun Tentara Nasional Indonesia. TNI bermula dari kelahiran Tentara Keamanan Rakyat (TKR)  pada 5 Oktober 1945 yang sebelumnya bernama Badan Keamanan Rakyat (BKR). Nama TNI digunakan sejak 3 Juni 1947, setelah sempat bernama Tentara Keselamatan Rakyat dan Tentara Republik Indonesia.

Minggu, 19 Mei 2019

Asal Usul Hari Kebangkitan Nasional di Kaltim


Hari Kebangkitan Nasional di Kalimantan Timur bermula dari peringatan 40 Tahun Kebangunan Nasional di Samarinda pada 20 Mei 1948.

Jumat, 21 Desember 2018

Salah Kaprah Hari Ibu


Momentum Hari Ibu setiap 22 Desember belakangan berubah menjadi hari libur kaum ibu untuk urusan dapur dan rumah tangga. Pemaknaan Hari Ibu juga terbelok ketika orientasi industri mempraktikkan berbagai ajang kompetisi nasi tumpeng, lomba kebaya, dan tanding memasang dasi.

Senin, 12 November 2018

Willem Oltmans, Sukarno, Samarinda & Lapangan Pemuda

Willem Oltmans adalah pria kelahiran Huizen, Belanda, pada 10 Juni 1925. Ia meninggal pada 30 September 2004 di Amsterdam, Belanda, karena kanker hati. Oltmans menempuh pendidikan di Nyenrode Business University dan Yale University. Pekerjaannya adalah wartawan investigasi, penerbit dan peng-interview

Sebagai wartawan investigasi dan penulis, Oltsmans aktif dalam menelisik perpolitikan internasional. Pada kisaran tahun 1956, tidak sehaluan dengan pemerintahan negaranya di Belanda, Oltmans malah mewawancara Presiden Sukarno. Dalam perkembangannya, Oltmans kemudian menjadi kepercayaan Sukarno dan wira-wiri ikut kegiatan tuan presiden. 

Jumat, 09 November 2018

Kronologi Riwayat Perjuangan Abdoel Moeis Hassan


1924: Lahir di Samarinda (2 Juni), dari ayah-ibu etnis Banjar kelahiran Samarinda.
1940: Dalam usia enam belas tahun mendirikan sekaligus mengetuai Roekoen Pemoeda Indonesia (Roepindo) sebagai organisasi kepemudaan di Samarinda yang menghimpun dan membangkitkan semangat kaum muda serta menanamkan kesadaran berbangsa, berbahasa, dan bertanah air Indonesia.

Kamis, 04 Oktober 2018

HUT TNI Kali Pertama di Samarinda, Bukan Militer yang Merayakannya

Perubahan nama Badan Keamanan Rakyat (BKR) menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR)  pada 5 Oktober 1945 menjadi dasar penetapan Hari Ulang Tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI). Sebelum bernama TNI sejak 3 Juni 1947, militer Indonesia ini dari Tentara Keamanan Rakyat (1945) berganti Tentara Keselamatan Rakyat (7 Januari 1946), dan Tentara Republik Indonesia (26 Januari 1946)

Situasi Republik yang masih berperang dengan Belanda menyebabkan tiada kesempatan bagi TNI memikirkan seremonial peringatan hari jadinya. Bahkan, di Samarinda TNI baru terbentuk pada akhir 1949. Artinya, selama lebih dari empat tahun sejak Proklamasi 1945, Kalimantan Timur tidak mempunyai barisan militer resmi dari pihak RI.

Senin, 01 Oktober 2018

Fakta dan Hoax Seputar PKI di Kaltim


Kawasan sekitar Jalan Arief Rahman Hakim Samarinda tempo dulu dikenal sebagai bagian Kampung Sungai Pinang. Ada sebuah tugu unik di perempatan jalan di kawasan tersebut. Bentuknya adalah alat pertukangan dan pertanian, yakni palu dan arit. Letaknya di depan kantor sebuah partai politik besar kala itu. Awal 1966 tugu itu dihancurkan massa.

Massa yang emosi melampiaskan amarah karena mendapat kabar bahwa partai itu adalah sarangnya orang-orang yang tidak beragama dan anti-Tuhan. Partai itu juga dituduh sebagai dalang dan pelaku pembunuhan sadis para jenderal TNI Angkatan Darat pada 1 Oktober 1965 serta akan membinasakan semua orang yang taat beragama.

Minggu, 30 September 2018

PKI di Benua Etam dan Tumbalnya


“Kakek saya simpatisan Masyumi, dikejar-kejar orang PKI, mau dibunuh.” Seorang teman menceritakan pengalaman hidup kakeknya tahun 1965 kepada penulis. “Alhamdulillah, kakek saya selamat dalam persembunyian,” lanjutnya.

Lain lagi dengan kisah teman yang lain. “Kakek saya dulu petani. Pas dekat Pemilu 1971 ada partai yang membagikan bibit disertai brosur. Kakek saya lalu diciduk aparat dan ditahan selama sebulan. Kakek saya dituduh simpatisan PKI. Tapi akhirnya dibebaskan karena kakek saya sama sekali tidak pernah ikut PKI atau organ sayapnya.”

Kamis, 09 Agustus 2018

Abdoel Moeis Hassan Pejuang Republiken


Abdoel Moeis Hassan (1924–2005) adalah seorang tokoh pemimpin perjuangan diplomasi politik untuk kemerdekaan Republik Indonesia di wilayah Kalimantan Timur pada 1946–1949. Abdoel Moeis Hassan lahir di Samarinda. Ia menempuh pendidikan di Meisje School yang didirikan Aminah Sjoekoer di Samarinda, kemudian Hollandsch Inlandshe School (HIS) di Sungai Pinang, dan MULO di Banjarmasin.

Sejak remaja ia mengikuti aktivitas pergerakan kebangsaan di Samarinda dan belajar masalah politik kepada A.M. Sangadji. Tahun 1940 ia mendirikan Roekoen Pemoeda Indonesia (Roepindo) dan menjadi ketuanya. Tahun 1942 bersama A.M. Sangadji ia mendirikan lembaga pendidikan bernama Balai Pengajaran dan Pendidikan Rakyat.

Selasa, 10 April 2018

5 Tahun Usai Proklamasi, Kaltim Baru Gabung RI


Bukan 17 Agustus 1945, bukan pula 27 Desember 1949. Wilayah Kalimantan Timur baru bergabung ke dalam Negara Republik Indonesia secara resmi pada 10 April 1950.

Sebelumnya, pada awal 1950 rakyat Kaltim dalam wadah koalisi Front Nasional yang dipimpin Abdoel Moeis Hassan (bukan Inche Abdoel Moies) menuntut penghapusan swapraja-swapraja alias empat Kesultanan yang ada di Kaltim serta menuntut agar Federasi Kaltim bergabung ke RI.

Selasa, 03 April 2018

60 Tahun Tragedi Kebakaran Dahsyat di Samarinda 4 April 1958

Pada tahun 1958 Samarinda baru setahun menyandang status ibu kota Provinsi Kalimantan Timur. Memasuki bulan keempat pada tahun itu juga, seluruh wilayah Republik Indonesia termasuk Kaltim dan Samarinda, sudah tiga belas bulan lamanya merasakan SOB. SOB singkatan dari Staat van Oorlog en Beleg, yakni keadaan darurat perang alias “negara dalam keadaan bahaya”. SOB diberlakukan Presiden Sukarno sehubungan dengan pemberontakan militer di Sumatra dan Permesta di Sulawesi.

Kamis, 09 November 2017

Kisah Kali Pertama Hari Pahlawan Diperingati di Samarinda

Pertempuran heroik di Surabaya, 10 November 1945 ditetapkan sebagai Hari Pahlawan. Setahun kemudian, 10 November 1946, mestinya menjadi momentum peringatan pertama pertempuran tersebut. Tetapi, itu tidak terjadi.

Lantas, kapankah Hari Pahlawan diperingati pertama kali di Samarinda? Di mana upacaranya? Siapa tokoh yang memelopori peringatan Hari Pahlawan perdana di ibu kota Kalimantan Timur?

Rabu, 23 Agustus 2017

Polemik Bendera Merah-Putih di Keraton Kutai Tenggarong 1945

Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 baru diketahui penduduk Tenggarong pada pekan kedua bulan September 1945. Kabar ini diperoleh di antaranya melalui radio milik seorang montir listrik bernama Kasan. Teknisi dari Surabaya yang sudah lama berdomisili di Tenggarong itu rajin membunyikan radionya sehingga para pemuda kerap berkumpul di rumahnya untuk sama-sama mendengarkan siaran berita. Kala itu, berita yang mendominasi adalah seputar peperangan antara Jepang melawan sekutu.

Kamis, 05 Januari 2017

Sejarah Samarinda dari Masa ke Masa

Samarinda ialah ibu kota Provinsi Kalimantan Timur, kawasan dataran rendah di pesisir timur Pulau Kalimantan. Daratan geografi Samarinda dibelah oleh Sungai Mahakam selebar ±400 meter dan diiris oleh sekitar 34 anak dan cabang Sungai Mahakam.
Perkembangan permukiman di wilayah Samarinda bermula dari eksistensi lima kampung di sebelah utara Sungai Mahakam yaitu Pulau Atas, Sambutan, Karang Mumus, Karang Asam, dan Loa Bakung serta satu kampung di selatan Mahakam yakni Mangkupalas. Keenam kampung tersebut merupakan komunitas kuno Samarinda yang eksis minimal sejak abad ke-13 Masehi (kisaran tahun 1200-an), sebelum berdirinya Kerajaan Kutai Kertanegara di Kutai Lama tahun 1300.

Jumat, 15 Januari 2016

15 Januari, Hari Bersejarah Indonesia dan Samarinda

Hari kelima belas di bulan pertama tahun matahari, alias 15 Januari, merupakan tanggal bersejarah bagi komunitas dalam dua regional, yaitu bangsa Indonesia secara nasional, dan warga Samarinda secara lokal.

Kamis, 07 Januari 2016

Solong Kampung Bersejarah (7 Januari 1947)

"Dasar lonte Solong!"

Itulah satu di antara kalimat umpatan era 1980-an hingga dekade 1990-an yang populer di Samarinda. Kala itu, sebagian penduduk Samarinda lebih mengenal "Solong" sebagai satu di antara pusat lokalisasi para "lonte".
Kata "lonte" sendiri dalam khazanah bahasa Indonesia mengalami peyorasi sehingga berulang kali diperhalus menjadi wanita penghibur, Wanita Tunasusila (WTS), terakhir diganti Pekerja Seks Komersial (PSK). Namun, hakikatnya sama-sama pelacur.

Rabu, 06 Januari 2016

Histori di Kampung Sambutan 1947

Hari ini, 6 Januari 2016, tepat 69 tahun silam,di tempat ini, Kampung Sambutan, terjadi pertempuran fisik bersenjata yang pertama kalinya di Samarinda.

Kala itu, pejuang pro RI bertempur melawan tentara NICA Belanda.Pejuang yang dalam kondisi defensif diserang setelah markas mereka di sini diketahui Belanda,akibat laporan mata-mata dari pengkhianat bangsa.