Kamis, 27 September 2018

Asal Usul Tepian Pandan Jadi Tenggarong

Lima puluh tahun setelah beristana di Pemarangan-Jembayan, Kesultanan Kutai Kertanegara memindahkan ibu kotanya ke Tenggarong pada 28 September 1782. Naskah asli Salasilah Kutai yang ditulis tahun 1849 (bukan buku yang berjudul Salasilah Kutai terbitan 1979 dan 1981) tidak mengungkap alasan pemindahan tersebut. Namun, terdapat alasan yang masyhur dari folklor (cerita rakyat) bahwa Jembayan dianggap tidak bertuah lagi sehingga perlu mencari lokasi yang baru untuk istana sultan.

Aji Imbut yang bergelar Sultan Muhammad Muslihuddin berperahu dari Jembayan ke arah hulu. Ia singgah di suatu kampung yang beraroma wangi. Rupanya, wangi itu berkat tanaman pandan yang banyak tumbuh di lokasi tersebut. Sesuai biotik khasnya, kampung itu bernama Tepian Pandan. Penghuninya adalah suku Kedang-Lampong yang dikepalai oleh Sri Mangku Jagat dan Sri Setia. Sultan memutuskan mendirikan istana baru di Tepian Pandan.

Beberapa waktu kemudian, nama Tepian Pandan berubah menjadi Tenggarong. Sedikitnya, ada tiga versi mengenai asal usul penamaan Tenggarong. Versi pertama, menurut folklor, hal ini bermula dari kebiasaan orang Bugis yang menyebutkan “tangga arung” untuk menunjukkan kekesalan terhadap prajurit istana yang melarang mereka memakai tangga sultan di tepian menuju Sungai Mahakam. Arung dalam bahasa Bugis berarti raja. Lama-kelamaan umpatan “tangga arung” berubah fonem pada huruf vokalnya menjadi “tengga-rong”.

Versi kedua nama Tenggarong berkaitan dengan tumbuhan tegaron. Dihikayatkan bahwa kampung itu banyak ditumbuhi pohon tegaron. Lantas, orang-orang Bugis yang membantu Aji Imbut dalam pemindahan pusat Kerajaan Kutai Kertanegara ketika melafalkan akhiran /n/ berubah menjadi /ng/ dan antara suku kata te dan ga disisipkan fonem ng, sehingga kata tegaron berubah menjadi Tenggarong.

Versi ketiga tentang asal usul nama Tenggarong adalah ungkapan “Tangga Busu Haron”. Ketika Aji Imbut tiba di Tepian Pandan, ia menatap ke arah hilir lalu melihat ada sebuah rumah yang tangganya masuk ke dalam sungai. Orang Kutai Lampong setempat menjelaskan bahwa rumah itu adalah milik seorang warga bernama Busu Haron, yang biasa dipanggil Aron. Sultan berdiskusi dengan menteri kerajaan dan akhirnya memutuskan memberi nama sungai kecil di lokasi itu dengan sebutan Tangga Aron. Alasannya, di sungai tersebut terdapat tangga yang langsung berasal dari rumah Busu Haron alias Aron. Dari frasa Tangga Aron itulah lama-kelamaan berubah menjadi Tangga Arong dan selanjutnya mengalami reduksi jenis sinkop (pengurangan fonem di tengah kata) sehingga menjadi Tenggarong.

Pada periode pemerintahan Bupati Kutai Ahmad Dahlan (1965–1979), muncul gagasan pengembalian nama Tenggarong ke nama asalnya, yakni Tepian Pandan. Alasannya, pengembalian nama tersebut akan dapat menghayati kembali sikap yang dinamis dan kreatif dari Sri Mangku Jagat dan Sri Setia beserta anak buahnya suku Kedang Lampong, seperti partisipasi yang diberikan oleh kedua kepala suku itu beserta anak buahnya dalam usaha mencari Tepian Pandan sebagai tempat kedudukan raja. Namun, upaya tersebut tampaknya tidak berhasil sebagaimana realita kini, nama ibu kota Kabupaten Kutai (Kartanegara) tetaplah Tenggarong.

Referensi
  • C.A. Mees, De Kroniek van Koetai Tekstuitgave Met Toelichting (Santpoort: N.V. Uitgeverij, 1935).
  • Dewan Redaksi Penerbitan Kutai Masa Lampau, Kini, dan Esok, Kutai Perbendaharaan Kebudayaan Kalimantan Timur (Jakarta: Balai Pustaka, 1979).
  • Dewan Redaksi Penerbitan Kutai Masa Lampau, Kini, dan Esok, Kumpulan Cerita Rakyat Kutai (Jakarta: Balai Pustaka, 1979).
  • Muhammad Sarip, Dari Jaitan Layar sampai Tepian Pandan Sejarah Tujuh Abad Kerajaan Kutai Kertanegara (Samarinda: RV Pustaka Horizon, 2018).
  • Tim Penyusun, Sejarah Daerah Kalimantan Timur (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah 1976/1977, 1978).
  • “Nama Tenggarong Berasal dari ‘Tangga Busu Haron’”, Suara Kaltim, 1994,  kliping tanpa keterangan tanggal, koleksi Rudolf Albert Kroll.
  • Mohd. Sidik Hanafie, Lampong: Suku yang Musnah (manuskrip tidak diterbitkan, 1982).
Penulis: Muhammad Sarip

Tidak ada komentar:

Posting Komentar