Minggu, 27 Desember 2015

Jejak Kolonial Belanda di Makam Tua Jalan Arjuna Samarinda

Prolog
Samarinda telah menarik perhatian bangsa Eropa, utamanya Belanda, sekurangnya sejak abad ke-19, ketika sumber daya alam hasil hutan seperti rotan, dammar dan lainnya banyak diperdagangkan. Di penghujung abad ke-19, ketertarikan Belanda terhadap sumber daya alam bergeser dari sumber daya alam hayati dari kehutanan dan perkebunan ke sumber daya alam nonhayati berupa hasil tambang seiring era industri di Eropa yang sedang berkembang. Kalimantan bagian timur merupakan satu di antara kawasan yang dianggap memiliki nilai ekonomi strategis bidang pertambangan saat itu, dengan mulainya Belanda mengembangkan industri pertambangan.
J. H. Menten, insinyur pertambangan, memulainya dengan mendapatkan konsesi dari raja Kutai saat itu, untuk menggarap batubara di daerah Batu Panggal (Loa Bakung, Samarinda) di kisaran tahun 1880an. Berikutnya, industri perminyakan dimulai pada kisaran 1897an dengan dibukanya sumur Mathilda di Balikpapan, disusul sumur Louise di Sanga-Sanga di tahun yang sama. Oleh karena itu, pemukiman Belanda berkembang di

kawasan-kawasan tersebut, termasuk di Samarinda. Tak sedikit orang Belanda yang kemudian juga lahir dan meninggal di sana.

Lokasi Makam Tua Jalan Arjuna
Makam terletak di jalan Arjuna, bersebelahan dengan gang 2, yang masuk dalam Kelurahan Jawa, kecamatan Samarinda Ulu. Dapat dituju dari kantor gubernur Kalimantan Timur di jalan R. E. Martadinata, menuju jalan Kinibalu di samping Lamin Etam, hingga ketemu pertigaan yang ada monumen PDAM Tirta Kencana, belok kiri memasuki jalan Arjuna. Makam tua terletak di sebelah kanan, sekitar 163 meter dari pertigaan tersebut. Makam tersebut sudah lama tak lagi digunakan.
Noval Agustin Fansur, pemerhati sejarah Samarinda, menuturkan bahwa di tahun 1980an , pada era walikota Waris Husain, sudah ada wacana pemindahan makam ke tempat lain. Mungkin karena tak sedikit ahli waris makam yang tak lagi diketahui keberadaannya dan alasan-alasan lain yang belum diketahui, hingga saat ini pemindahan makam belum terjadi.
Makam dikeliling tembok berketinggian sekitar 1.80 meter, dengan bagian depan kini berpagar logam model geser, yang sehari-hari dikunci. Di atas jalan masuk, tampak konstruksi atap dari balok ulin masih kokoh dengan atap seng, sebagai tempat peristirahatan bagi para peziarah saat itu.
Bagian dalam makam tampak tak terurus, dengan rerumputan dan ilalang maupun talas merambat di sekujur area pemakaman. Di beberapa bagian tepi kawasan makam, tampak pohon pisang. Luas makam setidaknya 4.516 meter persegi, yang diukur menggunakan software Garmin BaseCamp dengan data berasal dari Navigasi.net.

Nisan-nisan Tua Peninggalan Zaman Kolonial
Pada penelusuran yang dilakukan pada 26 Desember 2015, setidaknya ditemukan 8 nisan yang dianggap berciri peninggalan kolonial. Ciri tersebut di antaranya yakni bangunan bersemen dengan campuran kerikil-kerakal sebagai campuran material semennya. Berikutnya, keberadaan marmer di tugu nisan maupun sebagai kotak makam bertutup, sebagaimana lazimnya makam-makam di Eropa pada abad pertengahan. Terakhir dan utama, yakni nama yang tertera di makam serta bahasa yang digunakan untuk menjelaskan waktu dan tempat meninggalnya maupun kenangan tentang pribadi yang dimakamkan, yang berupa nama Eropa/ Belanda dengan menggunakan bahasa Belanda.
Masih ada nisan-nisan lain yang terindikasi peninggalan Belanda menurut warga sekitar yang menyertai observasi makam, namun karena tertutup ilalang dan talas di area berair dan ketiadaan alat kerja atau sarana pendukung lain seperti sepatu boot dan parang, belum semua wilayah makam bisa diperiksa seksama.

Nama-nama Belanda yang Tertera di Makam
Setidaknya 8 nisan merupakan nisan tua yang ada sejak era kolonial Belanda. Dari jumlah 8 tersebut, setidaknya 6 di antaranya masih tampak jelas, nama dan tulisan yang tertera di nisannya. Nisan ke-7 sebagian besar sudah tak bisa tampak hurufnya, karena lembar semen di mana tulisan tersebut dicetak, telah runtuh dan tidak diketahui keberadaannya. Detilnya sebagaimana di bawah ini.
NISAN 1
“HIER RUST

ONZE LIEVELING

MARIA LOUISE CAROLD

GEB TE SOENGEI MARIAM

DEN 15EN APRIL 1918
OVERL TE SANGA SANGA DALEM
DEN 23EN AUGUSTUS 1918”
JAN ELZERMAN
IN LEVEN EMPLOYE B.P.M
GEB TE ZWOLLE
DEN 16EN JUNI 1879
OVERL: TE SANGA SANGA DALEM
DEN 17EN NOVEMBER 1918”
HIER RUST
ONZE LIEVELING
LOUIS MARIE VERSTAELLEN
GEB TE SOENGEI MARIAM
DEN 31EN AUGUSTUS 1918
EN ALDAAR OVERLEDEN
23EN MAART 1919”
VAN
MIJN LIEF VROUWTJE
ALEIDA ALBERTA JOHANNA
VAN DOORN DOLLEMAN
GEB: 7 JUNI 1895 TE UTRECHT
GEST: 9 MEI 1919 TE SAMARINDA
RUST ZACHT LIEVELING
??????????”
DORJEE
GEBOREN EN
OVERLEDEN
SANGA SANGA”
IVONNE ELISABETH SCHAAD.
GEB: 3 AUGS: 1939
OVERL: 5 FEBR: 1940
Gods name zij geprezen;
't Was wel bij ons,'t ging weg van ons,
't Was beter in de Hemel
daar blijft het ons, daar wacht het ons,
daar zien wij 't eenmaal weder”
??F
????MOULDS.
Puisi tersebut bila dialihbahasakan ke Indonesia, kira-kira bermakna berikut:
Nama Tuhan diagungkan;
Ia baik bersama kita,ia pergi meninggalkan kita,
Ia lebih baik berada di langit,
Ia adalah kita, menunggu kita,
Hingga kita bertemu kembali “
2015, “Guido Gezelle”, Wikipedia, diakses pada 27 Desember 2015 pk. 22.35 WITA 
2013, “Sanga-Sanga, Kutai Kartanegara”, Wikipedia, diakses pada 27 Desember 2015 pk. 19.37 WITA
2013, “Sungai Mariam, Anggana, Kutai Kartanegara”, Wikipedia, diakses pada 27 Desember 2015 pk. 21.17 WITA


NISAN 2
“HIER RUST
NISAN 3
“R.I.P
NISAN 4
“RUSTPLAATS
NISAN 5
“KINDFAM
NISAN 6
“HIER RUST ONZE LIEVE
God gaf het ons, God nam het ons,
NISAN 7
“???MORY
???”

Beberapa Catatan dan Penjelasan tentang Tulisan yang Tertera di Nisan Belanda
Hier Rust” yang banyak tertulis di awal tulisan, bermakna “here rest” dalam bahasa Inggris atau dalam bahasa Indonesia kira-kira bermakna “di sini beristirahat”. “Rustplaats” berarti “tempat istirahat”
Geb” merupakan kependekan dari “geboren” alias “born” dalam bahasa Inggris atau bermakna “lahir” dalam bahasa Indonesia
Overl” merupakan kependekan dari “Overleden” alias “meninggal” dalam bahasa Indonesia.
Onze Lieve” berarti “our love” dalam bahasa Inggris atau “pujaan hati kami” dalam bahasa Indonesia.
Rust Zacht Lieveling” setara dengan “Rest in Peace” dalam bahasa Inggris atau “Beristirahat dalam Damai” di bahasa Indonesia
Tanda tanya yang ada merupakan huruf yang tak bisa dibaca atau hilang di nisan tersebut.
Beberapa nisan menunjukkan bahwa tak jarang orang Belanda tersebut meninggalnya di Sanga-Sanga (ada yang ditulis sebagai Sanga-Sanga Dalem) namun dimakamkannya di Samarinda. Mungkin ini merupakan suatu kelaziman saat itu, konsentrasi makam orang Belanda ada di Samarinda.
Nisan yang pertama diperiksa, merupakan makam dari MARIA LOUISE CAROLD yang lahir di Sungai Mariam pada April 1918 dan meninggal pada Agustus 1918 di Sanga-Sanga, pada usia 4 bulan.
Tercatat juga keberadaan pegawai B.P.M (Borneo Petroleum Maatschappij), perusahaan perminyakan Belanda saat itu, yang eksis di Balikpapan dan Sanga-Sanga. Pegawai ini, JAN ELZERMAN, kelahiran Zwolle, suatu kota di Belanda, bekerja di BPM Sanga-Sanga dan meninggal saat bertugas di Sanga-Sanga, dan akhirnya di makamkan di Samarinda pada usia 39 tahun.
Ada juga yang lahir di daerah Sungai Mariam (Sanga-Sanga), suatu wilayah yang kini masuk dalam kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara, di mana minyak bumi telah dieksploitasi sejak era kolonial. LOUIS MARIE VERSTAELLEN, lahir pada Agustus 1918 dan meninggal pada Februari 1919, pada usia 6 bulan.
ALEIDA ALBERTA JOHANNA VAN DOORN DOLLEMAN dilahirkan di kota Utrecht, Belanda, pada Juni 1895 dan meninggal di Samarinda pada Mei 1919 di Samarinda pada usia 24 tahun.
DORJEE, tidak jelas tahun lahir dan wafatnya, namun kota kelahiran dan wafatnya sama, yakni Sanga-Sanga.
IVONNE ELISABETH SCHAAD., lahir pada Agustus 1939 dan meninggal pada Februari 1940, baru berusia 6 bulan ketika dimakamkan.
Ada kutipan puisi yang merupakan karya dari Guido Gezelle, yang tertera di nisannya.
“Tuhan Beri kepada kita, Tuhan Ambil dari kita,
Sekilas tentang Guido Gezelle. Guido Gezelle memiliki nama lengkap Pieter Theodorus Josephus Guido Gezelle, merupakan pendeta Katolik Roma kelahiran Bruges, Belgia, pada 01 Mei 1830 yang wafat pada 27 November 1899. Beliau dikenal karena gubahan-gubahan puisinya yang memikat, dengan tema seputar alam, persahabatan dan kematian.
Makam ke-7 tidak bisa diidentifikasi dengan baik karena kondisinya yang telah banyak rusak.

Penutup
Keberadaan jejak makam kolonial Belanda di jalan Arjuna, Samarinda merupakan satu dari sekian peninggalan sejarah di Samarinda yang luput dari perhatian pemerintah kota Samarinda. Upaya identifikasi, pembersihan makam dan restorasi makam dengan memperhatikan kaidah-kaidah pelestarian jejak sejarah diperlukan untuk membuat kawasan ini menjadi satu di antara lokasi potensi situs bersejarah di kota Samarinda, di luar lokasi situs bersejarah yang saat ini telah ada.
Kerja sama antar Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait, Balai Pelestarian Cagar Budaya, perguruan tinggi lokal maupun organisasi profesi akan sangat diperlukan untuk memperkuat pemetaan dan pemanfaatan potensi kawasan ini sebagai lokasi wisata sejarah yang layak diperhitungkan dan berpotensi tujuan wisata internasional karena keberadaan makam peninggalan era kolonial Belanda tersebut.
Bentuk kemitraan dengan komunitas nirlaba, lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat setempat dengan pembinaan dari pemerintah akan mampu mendorong kepariwisataan daerah berkembang dengan baik.

Referensi Pustaka Materi Sejarah:
2015, “Guido Gezelle”, Wikipedia, diakses pada 27 Desember 2015 pk. 22.35 WITA 
2013, “Sanga-Sanga, Kutai Kartanegara”, Wikipedia, diakses pada 27 Desember 2015 pk. 19.37 WITA2013, “Sungai Mariam, Anggana, Kutai Kartanegara”, Wikipedia, diakses pada 27 Desember 2015 pk. 21.17 WITA

Penulis: Fajar Alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar