Jumat, 10 April 2020

Salah Paham Lembu Suwana, Satwa Mitologis Kutai yang Dikira Milik Mulawarman


Patung lembu suwana di Museum Mulawarman Tenggarong.
Fotografi Muhammad Sarip, 2013.
Tanah Kutai pada masa lampau mempunyai dua kerajaan besar. Pertama, Kerajaan Martapura yang didirikan Aswawarman putra Kundungga. Di buku-buku sekolah, kerajaan ini disebut dengan nama Kerajaan Kutai yang diklaim sebagai kerajaan tertua di Nusantara. Pusatnya di Muara Kaman, di hulu Sungai Mahakam. Kerajaan ini berdiri sekitar tahun 400 Masehi dengan pemimpin yang terkenal, Maharaja Mulawarman.

Kedua, Kerajaan Kutai Kertanegara yang didirikan Aji Batara Agung Dewa Sakti di Jaitan Layar (Kutai Lama). Imperium yang dekat dengan muara Sungai Mahakam ini berdiri pada tahun 1300. Pada tahun 1782 ibu kotanya dipindahkan ke Tenggarong. Perbedaan lebih rinci antara dua imperium ini bisa disimak dalam artikel di tautan ini: bit.ly/3c9EYbT.

Masing-masing kerajaan mempunyai hewan yang disucikan. Maharaja Mulawarman pernah mendermakan ribuan sapi untuk kaum Brahmana di Muara Kaman. Kisahnya tercatat dalam pahatan aksara Pallawa di prasasti yupa. Sapi di sini merupakan hewan yang real dari jenis mamalia herbivora berkaki empat dan bertanduk yang lazim diternakkan. 

Adapun Kutai Kertanegara mempunyai hewan suci bernama lembu suwana, yang sering ditulis lembuswana. Berbeda dengan sapinya Mulawarman, lembu suwana merupakan hewan mitologis. Fungsinya sebagai wahana atau kendaraan tunggangan raja dan permaisuri Kutai Kertanegara. Legenda lembu suwana termuat dalam kitab Surat Salasilah Raja dalam Negeri Kutai Kertanegara. Manuskrip kuno ini beraksara Arab Melayu, selesai ditulis oleh Khatib Muhammad Thahir pada 1849. Nama kitabnya sering diringkas dengan Salasilah Kutai.
Teks Arab Melayu mengenai lembu suwana yang tertulis dalam
kitab Salasilah Kutai versi orisinal, halaman ke-9.
Fotografi Muhammad Sarip, 2020. 

Thahir, orang Banjar yang bekerja sebagai juru tulis Kesultanan Kutai, mendeskripsikan wujud lembu suwana pada halaman ke-9. Berikut ini transliterasi teks Latinnya.

Adapun lembu yang bertijak di atas batu itu, lembu suwana namanya, begading berbelalai, rupanya seperti gajah, betaring seperti rupa macan, bersirik seperti rupa kuda. Tubuhnya tubuh kuda, besayap betaji seperti rupa garuda, berekor seperti rupa naga, bersisik sepanjang tubuhnya. Itulah yang dinamai lembu suwana.”

Lembu suwana dalam Salasilah Kutai diungkapkan secara harfiah dan gamblang sebagai hewan aneka rupa. Hal ini berbeda dengan nama Lambu Mangkurat yang diwartakan dalam Hikayat Banjar. Lambu Mangkurat terang-benderang merupakan nama tokoh manusia. Ia putra Ampu Jatmika yang berperan sebagai mangkubumi di Nagara Dipa, cikal bakal Kerajaan Banjar.

Lembu suwana dihikayatkan kali pertama muncul dari dalam Sungai Mahakam di kawasan Jaitan Layar (Kutai Lama). Lembu suwana mengusung naga yang menjunjung gong berisi bayi perempuan. Suara gaib yang menyertai kejadian itu menerangkan bahwa bayi tersebut dinamai Putri Karang Melenu.

Kemunculan kali kedua lembu suwana terjadi ketika Putri Karang Melenu berusia lima tahun. Dalam rangkaian ritual erau tijak tanah, lembu suwana hadir lalu Putri Karang Melenu menjadikannya sebagai kendaraan tunggangan. Sang putri ini kelak menjadi permaisuri Aji Batara Agung Dewa Sakti.

Kemunculan berikutnya terjadi ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti ingin pergi ke Majapahit. Raja pertama Kutai Kertanegara ini memanggil lembu suwana lalu menungganginya dalam perjalanan ke kerajaan di Pulau Jawa tersebut.

Pada masa Sultan Aji Muhammad Sulaiman (1850–1899) visual lembu suwana dibuat dalam wujud arca. Pengerjaan arca berbahan tembaga ini dilakukan di Burma. Dalam rekonstruksi versi arca ini terjadi penambahan ornamen pada kepala lembu suwana yang diberi mahkota. Selain itu, bentuk tubuh dan kepala lebih menyerupai anjing. Tampaknya, seniman di Burma mengimajinasikan rupa anjing dari kata suwana (shvan) yang dalam bahasa Sanskerta bermakna anjing. Unsur lembu yang tersisa pada patung lembu suwana hanya bagian tanduknya. 

Hewan lembu pada tradisi lisan masyarakat Samarinda dan Kutai selain berwujud mitologi lembu suwana juga ada yang dinamakan ular lembu. Tubuhnya sepanjang lebar Sungai Mahakam yang berkisar antara 300 hingga 400 meter. Diameternya seperti drum 200 liter. Kepalanya seperti kepala lembu yang bertanduk. Hidupnya di dasar Sungai Mahakam dan kadang menampakkan diri dengan tanda gelombang besar atau terjadi longsoran pada bantaran sungai. Eksistensinya sering disebut sebagai naga penunggu Sungai Mahakam. Dewan Redaksi Penerbitan Kutai Masa Lampau, Kini, dan Esok (1977) menggolongkan ular lembu sebagai binatang purba.

Pemuatan mitologi lembu suwana dalam Salasilah Kutai menyesuaikan dengan aspek religiositas pada kronik awal mula dinasti Kutai Kertanegara. Kala itu religi yang dianut masyarakat Kutai kuno adalah Hindu. Analagi kesucian dan ketinggian strata sosial raja dinarasikan sebagai sosok keturunan dewa. Dalam Hindu, lazim para dewa mempunyai wahana alias makhluk yang menjadi kendaraan atau tunggangan. Wahana (dari bahasa Sanskerta: vahana) bisa berwujud hewan nyata, hewan mitologis atau hewan campuran.

Salasilah Kutai menghadirkan cerita wahana lembu suwana untuk kepentingan penjagaan terhadap wibawa, kehormatan, keagungan, dan kesaktian dinasti raja. Penulis Salasilah Kutai yang seorang muslim, juga penulisannya pada masa kerajaan sudah menjadi kesultanan Islam, tidak menafikan fakta bahwa leluhur Kutai dulunya menganut Hindu. Unsur-unsur kepercayaan lama yang bernuansa magis ada yang dilestarikan sebagai pemerkuat ketaatan rakyat kepada pemimpinnya yang agung. 

Selanjutnya, pada abad ke-21 terjadi disinformasi atau kekeliruan soal tokoh penunggang atau pemilik lembu suwana. Entah, siapa yang memulainya, di situs-situs internet banyak yang menyebutkan bahwa lembu suwana merupakan kendaraan tunggangan Maharaja Mulawarman. Ada yang menulisnya dengan mencatut cerita rakyat sebagai sumbernya. 

Tangkapan layar situs Kumparan.com yang memuat artikel
berkonten lembuswana sebagai hewan tunggangan Mulawarman.
diakses pada 10 April 2020

Tangkapan layar situs resmi Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Mulawarman
yang menampilkan info kegiatan Pekan Sejarah Mulawarman dengan logo gambar vektor lembu suwana.

Pernah pula pada tahun 2017 diluncurkan sebuah buku yang berjudul Ekspedisi Kudungga menelusuri Jejak Peradaban Kutai. Buku berukuran jumbo ini memajang gambar  ilustrasi lembu suwana pada sampulnya. Sampul ini diprotes oleh budayawan Kalimantan Timur yang kala itu menjabat Kepala Dinas Pariwisata Kaltim.

Sang budayawan, Syafruddin Pernyata namanya, dihadirkan pada acara peluncuran buku terbitan Tempo Institute itu sebagai satu di antara narasumber pembanding. Pria yang juga penulis novel itu mempertanyakan tentang judul Kudungga, yang dari abad keempat Masehi, tetapi gambar sampulnya adalah patung lembu suwana yang muncul di masa Kerajaan Kutai Kertanegara.

Menanggapi kritik yang disampaikan narasumber dan hadirin mengenai konten sejarah buku tersebut, Direktur Tempo Institute Mardiyah Chamim menjelaskan duduk perkaranya. Menurutnya, buku Ekspedisi Kudungga bukan dokumentasi dari sebuah ekspedisi akademis ilmiah, melainkan kumpulan catatan dari sebuah perjalanan jurnalistik. Mardiyah menegaskan bahwa ini memang bukan buku sejarah.

Sesi bedah buku Ekspedisi Kudungga di gedung Pendopo Lamin Etam, Samarinda, 25 Agustus 2017.
Sumber: fotografi Muhammad Sarip

Desain sampul lembu suwana yang kontroversial ini memang patut menuai kritikan karena menempatkan hewan mitologis bukan pada proporsinya. Sampul ini bisa menggiring pemahaman khalayak atau menimbulkan kesalahan persepsi bahwa lembu suwana adalah wahana, tunggangan atau maskot Kudungga (nama yang benar: Kundungga; lihat artikel "Ketika Nama Kundungga, Raja Pertama Kutai Martapura, 'Dikudeta' oleh Kudungga").
  
Realitasnya, legenda lembu suwana ini—walaupun bukan termasuk fakta sejarah—pada tradisi lisan Kutai, tidak pernah disebut kemunculannya pada masa Kundungga. Cerita rakyat Kutai juga tidak mengenal kehadiran lembu suwana pada masa putra Kundungga, Aswawarman, tidak juga ketika pemerintahan Mulawarman. Ketujuh prasasti yupa yang ditemukan di Muara Kaman sama sekali tidak menyebutkan nama satwa, kecuali sapi pada sebuah batu bertulisnya.

Memodifikasi petuah "Harus adil sejak dalam pikiran" karya maestro sastra Pramoedya Ananta Toer, ketika mengungkap sejarah dan budaya marilah kita adil sejak dalam heuristik (penghimpunan sumber).

Penulis: Muhammad Sarip

Tidak ada komentar:

Posting Komentar