![]() |
| Dari kiri: Fajar Alam, KH Muhammad Rasyid, Inui Nurhikmah, Prof Abdunnur, Muhammad Sarip, Ira Fadia Herviska Putri, Muhammad Ilham Syahputra, Nur Suci Sirana |
Samarinda, SejarahKaltim.com
Dibuka dengan Lagu Indonesia Raya dan tanpa seremonial birokratis tepat pukul 9 pagi, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kalimantan Timur meluncurkan buku berjudul Sejarah Islam di Kalimantan Timur: Empat Setengah Abad Jaringan Dakwah, Ulama, dan Peradaban dari Kerajaan hingga Republik, di Aula Perpustakaan Kota Samarinda pada Kamis (2/4/2026).
Launching buku karya Prof Abdunnur dan sejarawan publik Muhammad Sarip ini menghadirkan narasumber dan moderator dari beragam profesi dan lintas generasi, bekerja sama dengan Lembaga Studi Sejarah Lokal Komunitas Samarinda Bahari (Lasaloka-KSB).
Abdunnur selaku Ketua Umum ICMI Kaltim periode 2026–2030 menyatakan, buku ini merupakan pemantik dari penulisan sejarah perkembangan Islam di Kaltim yang dirasakan masih kurang diketahui oleh publik.
“Sebagai pimpinan Konsorsium Universitas Borneo (KUUB), yakni forum perguruan tinggi lintas negara yang terdiri Indonesia, Malaysia, dan Brunei, yang fokus mengkaji perkembangan Islam di Pulau Kalimantan, rencananya buku ini akan menjadi salah satu referensi utama dalam konferensi KUUB yang digelar di Samarinda pada Juni 2026 mendatang,” ungkap Abdunnur yang juga menjabat Rektor Universitas Mulawarman tersebut.
Dalam sesi bedah buku, Ira Fadia Herviska Putri dari Pusat Studi Konstitusi Demokrasi dan Masyarakat (SIDEKA) Fakultas Syariah UINSI mengemukakan bahwa dia sebagai gen Z memperoleh pengetahuan ilmiah dari buku ini untuk bisa memahami konteks cerita mitos yang sering muncul dalam sejarah.
“Dari membaca buku ini, kita tidak boleh menelan mentah-mentah kisah mitos, misalnya cerita Tuan Tunggang Parangan menaiki ikan parangan, karena hal itu itu sebenarnya merupakan penggambaran tentang keistimewaan tokoh dengan bahasa masyarakat masa lampau,” papar Ira.
![]() |
| Audiens menyanyikan lagu Indonesia Raya |
Gen Z berikutnya, Muhammad Ilham Syahputra yang segera menamatkan studi S-2 Pendidikan Sejarah UNS Solo, membahas tentang gaya bahasa buku ini.
“Membaca buku ini mengingatkan saya pada buku sejarah karya Prof Asvi Warman Adam, walaupun temanya berat, tapi gaya bahasanya mudah dipahami,” ujar Ilham yang juga alumnus S-1 Pendidikan Sejarah FKIP Unmul.
Pembicara berikutnya, KH Muhammad Rasyid selaku Ketua MUI Kalimantan Timur menyampaikan apresiasi atas penerbitan buku ini.
“Saya punya kenangan dengan Ketua MUI Kaltim KH Saberanity yang juga ayah dari Prof Abdunnur, karena dulu saya kali pertama menjadi penceramah itu berkat diminta beliau menggantikan jadwal beliau pada sebuah kajian di Samarinda tahun 1977,” ungkap Kiai Rasyid.
Sementara itu, Fajar Alam sebagai Ketua Lasaloka-KSB dan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) mengungkapkan dinamika pembangunan bangunan masjid di Kaltim yang semula akulturasi dari warisan Hindu, tetapi sejak penghujung abad ke-20 kebanyakan berubah menjadi gaya arsitektur Turki.
“Pentingnya tiap warga menulis dan merekam cerita tutur dari para orang tua supaya terdokumentasikan,” tutur Fajar yang juga Ketua Program Studi Teknik Geologi Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT).
Inui Nurhikmah sebagai Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Kota Samarinda menyatakan, perkembangan buku sejarah lokal dalam 5 tahun terakhir menunjukkan peningkatan siginifikan.
“Saya perhatikan 3 atau 4 buku terakhir karya Muhammad Sarip, bahasanya berubah menjadi lebih kekinian, kadang agak Jaksel, dan ini terobosan yang menarik,” ujar Inui yang juga ASN Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Samarinda.
Menanggapi pendapat tentang penggunaan bahasa dalam buku sejarah, Sarip mengungkapkan alasannya.
“Penggunaan bahasa populer dalam beberapa buku terakhir karena saya menerima masukan dari seseorang yang bernama Nanda Puspita Sheilla, bahwa buku sejarah itu harus bisa menjangkau generasi Z dan gen Alfa, dan dia terlibat dalam penulisan buku dan juga jurnal bersama saya,” tutur Sarip.
Forum diskusi dimulai tepat pukul 9 Wita dan langsung dibuka oleh Nur Suci Sirana selaku produser dan penulis naskah sebuah lembaga penyiaran publik, tanpa seremoni dan sambutan, kecuali Lagu Indonesia Raya.
Sejumlah audiens dari kalangan akademisi, mahasiswa, perwakilan pemerintah, ulama, pegiat literasi dan budaya menyampaikan masukan, pendapat, dan kritik dalam sesi tanya jawab.
Peserta yang hadir dan tercatat antara lain Aji Muhammad Mirza Wardana, Drs H Muhammad Lutfi, Bayu (Balai Pelestarian Kebudayaan Kaltim), Arief (Kanwil BPN Kaltim), Farah LG (Pengurus MUI Kaltim), KH Muhammad Haiban (PW Muhammadiyah Kaltim), Deri Viviasy (PW NU Kaltim), Samsuriaty (BKMTM Kaltim), Dr Murjani (Presidium KAHMI Kaltim), Miranti & Ratno Timur (Disdikbud Samarinda), Awang M Rifani & Rizky Raihan (Disdikbud Kukar), Patimah Irny & Masitah (DPK Kaltim), Nur Azizah (Diarpus Kukar), Drs Hamdani (DKD Kaltim), Fachrizal Muliawan (Klausa.co), Chella Defa Anjelina (RRI Samarinda), Risna (Kaltimkece.id), Nindiani Kharimah (Kaltimtoday.co), Nevrianto Hardi Prasetyo (Tribun Kaltim), Widya Amanda (Sketsa Unmul), Ari Rachiem (Disway Kaltim), Arief Rahman (Wikipedia Indonesia), Vian, Krisdiyanto (Paddleboard, Dr Aji Qamara Hakim (FISIP Unmul), Dr Muhammad Nurchalis Alhadi (FH UMKT), Wandan Dewi Muria Sari, Gusti Muhammad Kasyful Anwar, Nur Afni Okta (Budaya Etam), Muhammad Dhani (Budaya Etam), Dzulfajrie Rahim, Pandu Pratama Putra, Abdul Rahman, Julaihah, M Taufiq Rifqi, M Rizky Azida Putra, Suci Rahmawati, Rizki Hadid, Anisa Tri Anugrah, Amelia Anggraini, Reski, Aya Syadza Zahratun Nufus, Ahmad Almadani, Henny Sri Purwanti, Nahwan, Joni, Sumiati, Fatmawati, Nur Shoimah, Mamat Ahmad Shauransyah, Ria Lestari, Innal Rahman, Novyar Dharmindra, Dr Eka Siswanto, Fauzan Amrillah, Harmedia Persada, Fitri Ramadhani, Alda Aulia Putri, Muhammad Zaini Ghoni, Bahrul Hidayah, Desy, Renita Saputri Anwar, Indrasti Maulia, Aulia Anastasya, Heisma Lutfillah Hanum, Muhammad Nafis Iksan, Nur Zahrah Ramadhani, Isfani Vardiliyah, Salsabila Rizky Amalia, Arendi, Ikhsan Nur Halim, Syarifah Padlun, Suci Rahmadani, Thomas Hutauruk, Ambo Dalle, Arsinah Sadar, Aan Ansori, Sarifudin, Bejo Santoso, Moh Tany, Prof Rahmawati, M Yusuf Rusli, Rani Prameswari, Adlansyah, Rosfiansyah, Bere Ali, Zainal Aripin, Muhammad Taufik. (AR)
***
Link berita
media:
“Dari Kerajaan ke Republik, Buku Sejarah Islam di Kaltim Diluncurkan”
~ Kaltim Post
“Ulas
Peradaban 4,5 Abad, Buku Sejarah Islam Kaltim Bakal Jadi Persembahan Utama di
Konsorsium Borneo”
~ Kaltimtoday.co
“Peluncuran
buku Sejarah Islam di Kalimantan Timur: Empat Setengah Abad Jaringan Dakwah,
Ulama, dan Peradaban”
~ Kaltimtoday
video
https://www.instagram.com/reel/DWn9KDBE_wA
“Buku Sejarah
Islam di Kaltim, Oase di Tengah Minimnya Literasi Sejarah Lokal”
~ Kaltimkece.id
“Buku Sejarah
Islam di Kaltim, Kupas Tumbuh dan Berakarnya Islam di Masyarakat”
~ RRI
Samarinda
“Baru
Diluncurkan, Buku Sejarah Islam di Kaltim Tarik Minat Pembaca Generasi Muda”
~ RRI
Samarinda
“Buku Sejarah
Islam Kaltim Diluncurkan, Ungkap Jejak Peradaban Sejak Abad ke-16”
~ Nomor Satu
Kaltim
“Buku Sejarah
Islam di Kaltim, Kupas Tumbuh dan Berakarnya Islam di Masyarakat”
~ RRI
Samarinda video
“450 Tahun
jejak Islam di Kaltim”
~ Kaltimkece
video
https://www.instagram.com/reel/DWppdmxElPK
“Peluncuran
Buku Sejarah Islam di Kalimantan Timur, Abdunnur: Jadi Referensi Universitas
KUUB”
~ Sketsa Unmul
“Buku Sejarah
Islam Kaltim berikan pesan merawat toleransi”
~ ANTARA
https://www.antaranews.com/berita/5509489/buku-sejarah-islam-kaltim-berikan-pesan-merawat-toleransi
“Membedah
Sejarah Penyebaran Islam di Kalimantan Timur pada Abad Ke-16”
~ Review Satu
%20-1.jpg)
%20-2.jpg)
%20-3.jpg)
%20-4.jpg)
%20-6.jpg)
%20-5.jpg)
%20-8.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar