Minggu, 21 April 2019

Kartini Kaltim Tempo Dulu dan Kartini Milenial

Muhammad Sarip dan Nabila Nandini, narasumber dari
Lasaloka-KSB dan tim pengusul Pahlawan Nasional Kaltim
Abdoel Moeis Hassan.
Sumber foto: HMPS FKIP Unmul.
Seminar Hari Kartini 2019 di Rektorat Unmul

Sedikitnya ada tiga figur perempuan Kaltim tempo dulu yang punya kiprah cemerlang. Ketiganya yaitu Salbiah, Djoemantan Hasjim, dan Fatimah. Hal ini diungkap oleh Muhammad Sarip dalam Seminar Sejarah Lokal Refleksi Hari Kartini 2019 di Rektorat Universitas Mulawarman Samarinda (18/4).


Salbiah adalah aktivitas pergerakan kebangsaan di Samarinda. Perempuan kelahiran Samarinda 1920-an menjadi anggota Roekoen Pemoeda Indonesia (Roepindo) pengurus bagian keputrian. Organisasi kepemudaan kebangsaan ini didirikan oleh Abdoel Moeis Hassan pada Mei 1940. Roepindo bertujuan menghimpun dan membangkitkan semangat kaum muda serta menanamkan kesadaran berbangsa, berbahasa, dan bertanah air Indonesia.

Pada masa Revolusi Kemerdekaan Salbiah bersama Moeis Hassan dan Oemar Dachlan mengikuti Kongres Gabungan Pemuda Indonesia Seluruh Kalimantan (Gappika) di Barabai. Kongres Maret 1948 ini mengajukan mosi penghapusan SOB (keadaan bahaya) karena SOB dianggap menyempitkan kebebasan bergerak rakyat.

Adapun Djoemantan Hasjim adalah legislator perempuan pertama DPRD Kaltim ketika provinsi ini baru dibentuk. Ia merupakan satu-satunya perempuan di lembaga parlemen daerah tersebut. Djoemantan menjadi anggota DPRD Peralihan Kaltim sebagai utusan Masyumi, sebuah partai berasas Islam yang didominasi orang-orang Muhammadiyah. Perempuan kelahiran Samarinda, 8 Desember 1930 itu adalah aktivitas Aisiyah, sebuah organ yang berafiliasi ke Muhammadiyah.

Kiprah Djoemantan di lembaga wakil rakyat bukanlah sebagai figuran atau sekadar pelengkap kuota. Djoemantan memiliki kapasitas sebagai organisatoris sekaligus orator ulung. Di antara aksi populernya adalah ketika ia mendesak Ketua DPRD Kaltim Azis Samad pada Mei 1959 untuk memimpin sidang yang memutuskan masalah pemakzulan Kepala Daerah Inche Abdoel Moeis (bukan Abdoel Moeis Hassan).

Figur berikutnya, Fatimah adalah aktivis Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) dan Roepindo. Perempuan Samarinda kelahiran 8 Juni 1928 itu memiliki semangat belajar yang tinggi. Fatimah belajar ilmu agama di rumah orang  tuanya dengan sistem privat, yakni guru yang datang ke rumah. Fatimah lulus sekolah tingkat dasar zaman Belanda (HIS) setahun sebelum tentara Jepang menduduki Samarinda 1942.

Pada masa pencanangan Dwi Komando Rakyat (Dwikora) oleh Presiden Sukarno 1963, Fatimah menjadi Komandan Korps Sukarelawati Kaltim. Dari latihan kemiliteran di Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Jakarta, Fatimah mempunyai keterampilan menggunakan senjata api. Hal itu sebagai sebagai persiapan perang versus Neo-Kolonialisme-Imperialisme (Nekolim).

Dari tiga figur perempuan tersebut, kita bisa melihat bahwa kesetaraan hak dan peranan perempuan dan laki-laki di Kaltim tidak diskriminatif.

Selain Muhammad Sarip, seminar ini juga menghadirkan narasumber Nabila Nandini yang merupakan anggota Tim Pengusul Pahlawan Nasional Kaltim Abdoel Moeis Hassan. “Kartini tidak hanya bersolek! Ia habiskan waktunya memenuhi diri dengan pengetahuan dan mengasah keluasan berpikir.” Nabila memaparkan.

Dilanjutkannya, perempuan secara umum tidak mesti lagi mengejar 3B standar kesempurnaan perempuan ala kontes kecantikan beauty, brain, behavior. Ketiga faktor itu saja tidak cukup untuk mendorong kemajuan zaman dan perbaikan kondisi kaum perempuan.

Menurut Nabila, Kartini Milenial adalah gadis-gadis muda Indonesia yang luas dan luwes, cerdas berpikir dan bebas menyerap ilmu tapi tetap mengenal identitasnya sebagai bagian dari bangsa dan akan menjadi kebanggaan Indonesia.

Dalam seminar ini, Sarip dan Nabila meluncurkan sebuah buku berjudul Perempuan di Kalimantan Timur Tempo Doeloe. Materi buku inilah yang dipresentasikan dalam seminar yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah FKIP Unmul ini. Selain sesama tim pengusul Pahlawan Nasional, mereka berdua adalah pengurus Lembaga Studi Sejarah Lokal Komunitas Samarinda Bahari (Lasaloka-KSB).

Sebelumnya, Plt. Sekretaris Daerah Provinis Kaltim Dr. Hj, Meiliana lebih dulu menyampaikan makalah bertajuk “Peran Pemerintah Daerah dalam Menghadapi Isu Feminisme”. Seminar dimoderatori oleh kurator Galeri Samarinda Bahari Ellie Hasan dan dibuka secara resmi oleh Rektor Unmul Prof. Masjaya.
(AR)


Dari kiri ke kanan: moderator Ellie Hasan, Plt. Sekdaprov Kaltim Dr. Hj. Meiliana, pengurus Lasaloka-KSB dan
tim pengusul Pahlawan Nasional Kaltim: Muhammad Sarip dan Nabila Nandini.
Sumber foto: Humas Pemprov Kaltim.
Seminar Sejarah Lokal Refleksi Hari Kartini 2019.
Sumber foto: Humas Pemprov Kaltim.
Dari kiri kanan: Dr. Jamil (Kaprodi Pendidikan Sejarah Unmul), Nabila Nandini (narasumber/Lasaloka-KSB),
Prof. Masjaya (Rektor Unmul), Dr. Hj. Meiliana (Plt. Sekdaprov Kaltim), Prof. Dr. Muh. Amir (Dekan FKIP Unmul),
Ellie Hasan (moderator), Muhammad Sarip (narasumber/Lasaloka-KSB).
Dari kiri ke kanan: M. Fitrah Wahyudi (Ketua HMPS Unmul), Sofyan (dosen Pend Sejarah Unmul),
Ellie  Hasan (moderator), Nabila Nandini (narasumber), Muhammad Sarip narasumber),
M. Nur Ma’rifat (Wakil Ketua HMPS Unmul).
Sumber foto: HMPS FKIP Unmul.

Narasumber dari Lasaloka-KSB: Muhammad Sarip dan Nabila Nandini,
bersama panitia Seminar Sejarah Lokal Refleksi Hari Kartini 2019.
Sumber foto: HMPS FKIP Unmul.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar