Obrolan soal posisi perempuan di Kaltim belum selesai. Soal setara atau tidak, hingga rasa aman yang masih jadi pertanyaan, jadi bahasan dalam Diskusi Publik Hari Kartini di Perpustakaan Kota Samarinda, yang terlaksana, pada Sabtu (25/4).
Forum tersebut bertema “Perempuan Kaltim Dulu dan Kini: Setara Belum? Aman Belum?” itu menghadirkan empat pembicara yang sekaligus memandu jalannya diskusi, yakni Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Samarinda Inui Nurhikmah, penulis biografi Inni Indarpuri, Alisya Anastasya dari The Femme Lit Society, serta sejarawan publik Muhammad Sarip.

Sebanyak 90 peserta hadir.
Dari jumlah itu, 20 orang mendapat kesempatan bicara, ada yang bertanya, ada
pula yang menyampaikan pendapat.
Bahasan yang muncul
beragam, mulai sejarah perempuan di Kaltim, tafsir Kartini, hingga isu
kekerasan berbasis gender dan perdebatan soal feminisme.
Sarip menegaskan,
pembahasan kesetaraan tidak cukup berhenti pada seremoni tahunan.
“Petugas registrasi ketika
acara dimulai ikut masuk menjadi peserta. Tidak ada yang berdiam di luar. Semua
yang di dalam ruangan yang meminta bicara, semuanya diberikan kesempatan yang
sama, sehingga menurut keyakinan saya forum hari ini memecahkan rekor jumlah
penanya terbanyak untuk forum publik di Samarinda,” ujarnya.
Dari sudut pandang generasi muda, Alisya Anastasya mengingatkan agar Kartini tidak hanya dilihat dari simbol.
“Tidak ada yang salah
dengan kebaya. Tapi ketokohan Kartini itu sebenarnya bukan ikon kebaya. Ada
substansi pemikiran dia tentang feminisme atau perjuangan perempuan untuk
mencapai kesetaraan dan keadilan gender,” paparnya.
Inni Indarpuri membawa
cerita dari masa lalu melalui sosok Lasiah Sabirin yang ia tulis dalam
biografi.
“Ibu dari Meilina ini
memberikan keteladanan tentang semangat kaum perempuan untuk belajar yang
tinggi bahkan sampai ke luar pulau di era 1950-an ketika fasilitas publik masih
terbatas,” ungkapnya.
Sementara itu, Inui Nurhikmah memaparkan kondisi perempuan dalam dunia perbukuan, dari tingkat global hingga lokal di Kaltim. Ia juga berbagi pengalaman menerapkan kesetaraan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua Lasaloka-KSB Fajar
Alam menyebut forum ini akan digelar rutin dengan tema yang dekat dengan
kondisi di Kaltim.
“Kegiatan hari ini berkolaborasi dengan Dispursip, IPI Samarinda, dan The Femme Lit Society merupakan forum kedua di tahun 2026, setelah forum pertama membahas sejarah Islam di Kaltim,” pungkasnya.
***
(Berita ini disalin dari Kaltimpost.id, terbit 25 April 2026)
Berita & Info lainnya:
Kota Raja dari Tepian Pandan, Tegaron, hingga Tenggarong
Sungai Mahakam Ikut Forum Dunia The Home River Bioblitz 2025
- Disdikbud Samarinda Umumkan 10 Pemenang Lomba Menulis Sejarah dan Budaya 2025
- Dari Sejarah Industrial, Perubahan Iklim, hingga Antisipasi Bencana dalamWorkshop Pusat Studi Borneo UMKT
- Pangdam Mulawarman ke Unmul 1963
- Peringatan 200 Tahun Perjanjian Kutai-Belanda 1825 Soroti Posisi Kaltim dalam NKRI
- Lomba Karya Tulis Sejarah dan Kebudayaan Kota Samarinda Berhadiah 20 Juta
- Doktrin Agama dan Pilihan Hidup Versi Ermioni
- Ermioni Vlachidou dari Yunani
- Hari Kartini 2025 Diperingati dengan Bedah Buku Aminah Syukur
- Bedah Buku Aminah Syukur, Hari Kartini 2025 di Perpustakaan Kaltim
- Disdikbud Buka Pendaftaran Peserta Lokakarya Penulisan Karya Sejarah dan Adat Tradisi 2025
- Menilik Sejarah Dwifungsi ABRI di Benua Etam
- Kutai Kartanegara: Jejak Sejarah Islam dan Budayadi Kalimantan Timur | Ensiklopedia Islam
- Temuan 8 Toponimi Samarinda
- UIN Jambi Diskusikan Buku Histori Kutai dan IKN
- Deputi OIKN Myrna Safitri Bahas Sejarah dan Lingkungan di IKN-Talk UINSI
- Ngaji Nusantara BEM PTNU Se-Kalimantan Hadirkan Sejarawan dan Akademisi Bahas IKN
- Pimpinan OIKN dan Rektor Unmul Launching Buku Historipedia Kalimantan Timur Karya Sarip dan Nanda
- Talk Show HUT Ke-67 Kaltim Bahas Sejarah Kepahlawanan
- Launching Buku Historipedia Kalimantan Timur di Unmul
- Buku Histori Kutai Dibedah Sejarawan BRIN, Senator Kaltim dan Anak Muda Samarinda
- Tim Komunikasi Presiden Adakan FGD Sejarah Kutai di Setneg
- Otorita IKN Bahas Kearifan Lokal Kaltim di Jakarta
- Mahasiswa dari Luar Kaltim Belajar Sejarah Kaltim dan IKN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar