Sebanyak 105 orang menghadiri penayangan film “Pesta Babi: Kolonialisme di zaman kita” di Kampus Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) Samarinda pada Selasa (12/5/2026).
Nobar dan Diskusi Publik yang dimulai pukul 19:00 hingga 22:15 Wita itu sempat mengalami pemindahan venue karena tidak mendapatkan izin di sebuah gedung milik pemerintah.
Namun, pemindahan venue malah menambah jumlah peserta, dari semula kuota 40 penonton, menjadi 100 penonton.
Kegiatan yang diinisiasi oleh komunitas Lasaloka-KSB ini mendapat dukungan penuh dari Dekan Fakultas Hukum UMKT, Prof. Dr. Aidul Fitriciada Azhari.
Enam narasumber yang mereviu film adalah Muhammad Nurcholis Alhadi, Rizal Kusumawijaya, Inui Nurhikmah, Lizzy Wijaya, Ananta Tsabita, dan Muhammad Sarip.
Mayoritas penonton dan peserta diskusi merupakan mahasiswa dari UMKT, Universitas Mulawarman, dan Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, ditambah beberapa jurnalis.
Inui Nurhikmah, Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Samarinda, memandu nobar dan diskusi.
Ananta Tsabita dan Lizzy Wijaya selaku mahasiswa FISIP Universitas Mulawarman mereviu film dari perspektif gen Z.
Rizal Kusumawijaya selaku Ketua Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Unmul mengomparasikan substansi film di Papua dengan peristiwa serupa di Sumatra dan Kalimantan.
Sementara itu, Wakil Dekan Fakultas Hukum UMKT, Muhammad Nurcholis Alhadi memberikan perspektif akademis dari aspek tindak pidana korporasi.
Pada tahun 1963 di Kalimantan Timur, tepatnya di pedalaman Kabupaten Kutai, pernah diproduksi sebuah film kolosal berjudul “Tangan-tangan Jang Kotor”, yang diproduseri oleh Panglima Kodam IX Mulawarman Kolonel Soehario Padmodiwirio alias Hario Kecik.
“Film ini menceritakan kehidupan masyarakat Jawa transmigran di pedalaman Kaltim dan interaksinya dengan masyarakat Dayak. Ada part romantisme antara pemuda Jakarta dan perempuan lokal. Motif Pangdam membuat film berbiaya dua puluh juta rupiah saat itu adalah sebagai bagian dari propaganda Dwikora alias konfontrasi terhadap Malaysia.”
Sarip melanjutkan, film itu memenangi sejumlah festival film internasional. Namun, ketika pemerintahan Sukarno digantikan oleh Orde Baru, karya film Hario Kecik itu dimusnahkan.
“Saat itu file film dalam format pita, belum ada file digital. Pita film Tangan-tangan Jang Kotor ini cuma ada enam copy. Rezim Orde Baru menuduh Hario terlibat Gerakan 30 September 1965 atau setidaknya condong membela PKI. Lalu, semua copy film tersebut lenyap tanpa jejak hingga sekarang,” papar Sarip.
Dalam konteks pelarangan film, termasuk kasus pembubaran nobar film Pesta Babi di NTB dan Ternate, Sarip menyayangkan pikiran dan tindakan sebagian oknum yang mengidap rasa takut berlebihan.
“Film adalah karya literasi, sama seperti buku. Orang menonton film sama kayak membaca buku, tidak mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Justru adanya kasus pelarangan itu menjadi promosi gratis dan makin memicu penasaran publik untuk menontonnya,” pungkas Sarip.
***
(Berita ini disalin dari iNews.id, terbit pada 13 Mei 2026)
Berita & Info lainnya:
Kota Raja dari Tepian Pandan, Tegaron, hingga Tenggarong
Sungai Mahakam Ikut Forum Dunia The Home River Bioblitz 2025
- Disdikbud Samarinda Umumkan 10 Pemenang Lomba Menulis Sejarah dan Budaya 2025
- Dari Sejarah Industrial, Perubahan Iklim, hingga Antisipasi Bencana dalamWorkshop Pusat Studi Borneo UMKT
- Pangdam Mulawarman ke Unmul 1963
- Peringatan 200 Tahun Perjanjian Kutai-Belanda 1825 Soroti Posisi Kaltim dalam NKRI
- Lomba Karya Tulis Sejarah dan Kebudayaan Kota Samarinda Berhadiah 20 Juta
- Doktrin Agama dan Pilihan Hidup Versi Ermioni
- Ermioni Vlachidou dari Yunani
- Hari Kartini 2025 Diperingati dengan Bedah Buku Aminah Syukur
- Bedah Buku Aminah Syukur, Hari Kartini 2025 di Perpustakaan Kaltim
- Disdikbud Buka Pendaftaran Peserta Lokakarya Penulisan Karya Sejarah dan Adat Tradisi 2025
- Menilik Sejarah Dwifungsi ABRI di Benua Etam
- Kutai Kartanegara: Jejak Sejarah Islam dan Budayadi Kalimantan Timur | Ensiklopedia Islam
- Temuan 8 Toponimi Samarinda
- UIN Jambi Diskusikan Buku Histori Kutai dan IKN
- Deputi OIKN Myrna Safitri Bahas Sejarah dan Lingkungan di IKN-Talk UINSI
- Ngaji Nusantara BEM PTNU Se-Kalimantan Hadirkan Sejarawan dan Akademisi Bahas IKN
- Pimpinan OIKN dan Rektor Unmul Launching Buku Historipedia Kalimantan Timur Karya Sarip dan Nanda
- Talk Show HUT Ke-67 Kaltim Bahas Sejarah Kepahlawanan
- Launching Buku Historipedia Kalimantan Timur di Unmul
- Buku Histori Kutai Dibedah Sejarawan BRIN, Senator Kaltim dan Anak Muda Samarinda
- Tim Komunikasi Presiden Adakan FGD Sejarah Kutai di Setneg
- Otorita IKN Bahas Kearifan Lokal Kaltim di Jakarta
- Mahasiswa dari Luar Kaltim Belajar Sejarah Kaltim dan IKN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar